BORNEONEWS, Palangka Raya – Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami inflasi tipis selama Juli 2018, yaitu 0,01 persen.
Inflasi ini disumbang dua kota indikator inflasi di Kalteng yaitu Palangka Raya dan Sampit. Terjadi inflasi di Palangka Raya sebesar 0,04 persen dan deflasi di Sampit 0,06 persen.
“Berdasarkan dua kota acuan, provinsi ini mengalami inflasi 0,01 persen yang diikuti oleh laju inflasi tahun kalender (3,13 persen) dan inflasi tahun ke tahun (3,13 persen)” terang Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng Hanif Yahya, Kamis (2/8/2018)
Hanif mengatakan, tidak hanya di daerah ini yang alami inflasi, karena se-Indonesia, hanya 14 kota yang tidak inflasi. Kedua kota di Kalteng tersebut, menempati peringkat ke-64 dan ke-72 kota inflasi tertinggi di tingkat nasional.
“Dari 82 kota pantauan IHK nasional, 68 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sorong (1,47 persen) dan deflasi tertinggi di Ambon (1,45 persen),” beber dia.
--page
Inflasi di Palangka Raya terutama dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga pada kelompok bahan makanan (0,63 persen) serta makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,46 persen).
Sedangkan di Sampit yang alami deflasi, terutama dipengaruhi oleh penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan (1,08 persen) serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,17 persen).
Hanif menyimpulkan, komponen harga bergejolak (volatile foods) memiliki pengaruh kuat terhadap tingkat inflasi di Palangka Raya (0,19 persen) dan deflasi di Sampit (0,29 persen).
Menanggapi potret inflasi dan deflasi sebagai indikator perekonomian Kalteng, hari ini, Kamis (2/8/2018) tim pengendali inflasi daerah (TPID) Provinsi Kalteng menggelar evaluasi bulanan di ruang rapat Asisten Setda Kalteng di kompleks kantor gubernur. (ROZIQIN/B-5)








