BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tak hanya di luar negeri, di dalam negeri pun kampanye negatif terhadap komoditas sawit juga ramai digiatkan sejumlah kelompok pecinta lingkungan.
Padahal, dengan pelatihan dan pemahaman yang baik bagi petani sawit skala kecil, isu negatif tentang sawit akan mereda dengan sendirinya.
Pakar Pertanian dari Universitas Hasanuddin Prof Dr Laode Asrul mengatakan ide pengembangan sekolah sawit khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) merupakan upaya nyata dalam meredam isu negatif yang kerap menerpa industri sawit di Tanah Air.
Bahkan Laode siap mendukung dan ambil bagian dalam pengembangan sekolah sawit untuk meningkatkan perekonomian petani sekaligus membuat sawit lebih ramah lingkungan.
"Ide pengembangan sekolah sawit merupakan hal yang positif. Sebab di sekolah sawit, kita bisa mendidik dan mengajarkan tenaga (petani) muda di desa agar di samping fokus untuk meningkatkan pendapatan juga sekaligus menjaga lingkungan sekitarnya," katanya di Makassar, medio pekan ini.
--page
Maraknya kampanye negatif yang dilakukan pihak asing kerap menerpa industri sawit nasional. Dan yang sering menjadi sasaran yakni terkait perusakan hutan sampai hilangnya keragaman hayati.
Menurut dia, pengembangan sekolah desa juga dianggap layak dilakukan berhubung ketersediaan dana desa yang diberikan pemerintah ke berbagai desa di Indonesia. Jumlahnya yang cukup besar tentunya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat di daerah.
Selain itu, pengembangan sekolah sawit begitu ideal dilakukan sebagai bagian untuk lebih bersaing dengan industri luar negeri.
"Jadi saya kira hal yang positif jika pengembangan sekolah sawit khususnya di Sulawesi hingga Papua bisa diwujudkan. Kita bisa melahirkan SDM yang berkualitas dan tentunya memahami cara-cara menjaga lingkungan," jelasnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








