PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Tim pengendali inflasi daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memberi sejumlah catatan tentang inflasi di provinsi ini.

Catatan itu merupakan hasil pertemuan bulanan TPID Kalteng tersebut di ruang asisten Setda, Kamis (2/8/2018), yang dipimpin oleh Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda Kalteng Lubs Rada Inin dan Deputi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalteng.

Pertama, selama Juli 2018 Kalteng mengalami inflasi 0,01% atau lebih rendah tekanan inflasinya jika dibandingkan dengan selama Juni 2018 yang tercatat inflasi sebesar 1,39%.

Kedua, dilihat dari komoditas penyumbang inflasi, pada Juli 2018, secara keseluruhan komoditas kelompok core merupakan penyebab utama terjadinya Inflasi baik di Kota Palangka Raya dan Kota Sampit.

“Tekanan harga komoditas tarif pulsa ponsel dan bensin memberikan sumbangan terbesar pada capaian inflasi kedua kota sampel inflasi,” terangnya.

--page

Ketiga, TPID memberikan catatan mengenai propek inflasi kedepan. Dimana Inflasi pada periode mendatang diperkirakan terdapat beberapa hal yang dapat memengaruhi tekanan inflasi, antara lain dari sisi Volatile Food, Administered Prices, dan Core.

“Dari sisi Volatile Foods adalah masih belum stabilnya pasokan komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras, serta potensi terganggunya produksi ikan memasuki musim kemarau.

“Dari sisi Administered Prices adalah adanya kenaikan BBM Non-Subsidi, penutupan sementara rute maskapai penerbangan, dan dari sisi Core adalah memasuki tahun ajaran baru perguruan tinggi, dampak kenaikan dexlite terhadap biaya angkut,” ulasnya.

Untuk diketahui, inflasi Juli tahun ini disumbang dua kota indikator inflasi di Kalteng yaitu Palangka Raya dan Sampit. Terjadi inflasi di Palangka Raya sebesar 0,04% dan deflasi di Sampit 0,06%. Gabungan dari keduanya, Kalteng mengalami inflasi 0,01 persen. (ROZIQIN/B-2)