JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Malaysia harus segera mengkaji struktur penerapan bea keluar (BK) untuk minyak sawit mentah (CPO) agar bisa bersaing di pasar dengan komoditas serupa dari Indonesia.

Ungkapan itu disampaikan CEO Asosiasi Pengolahan Minyak Sawit Malaysia (Poram) Teoh Beng Chuan mengacu pada komitmen Malaysia untuk mendorong bisnis sektor hilir sawit dan mendongkrak ekspor.  

Teoh mengatakan bila struktur BK CPO Malaysia tidak bisa bersaing dengan yang dimiliki Indonesia, maka pelaku industri sawit Malaysia akan sulit bersaing dengan rival mereka dari Indonesia.

"Para produsen minyak goreng, oleokimia, lemak specialty dan biodiesel saat ini menghadapi persaingan tak adil di pasar ekspor dan kehilangan pangsa pasar sejak struktur BK CPO Malaysia tak kompetitif jika dibandingkan dengan Indonesia," kata Teoh seperti dikutip New Straits Times.

Saat ini ada selisih harga struktural antara US$20 hingga US$30 per ton untuk produk yang sama yang diekspor dari Malaysia dan Indonesia.

Menurut dia, secara logika, para pembeli akan membeli produk yang lebih murah dengan kualitas yang sama. Itulah mengapa Malaysia terus kehilangan pangsa pasar ekspor.

--page

Struktur BK CPO Malaysia secara bulanan berfluktuasi antara 4,5 hingga 8,5 persen. Jika harga minyak sawit bergerak di antara RM2.250 hingga RM2.400 per ton, BK yang diterapkan sebesar 4,5 persen. Jika harga bergerak antara RM2.550 dan RM2.700 per ton, pajaknya adalah 5,5 persen.

Dalam tiga tahun terakhir, harga acuan CPO di Bursa Derivatif Malaysia anjlok sekitar 25 persen dari RM3.000 per ton menjadi rata-rata sebesar RM2.200 per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)