PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Tim pengendali inflasi daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai perlunya mewaspadai pengaruh biaya transportasi terhadap penaikan harga barang.

Ini lantaran masih berlanjutnya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Non Subsidi (Pertamax dan Pertalite) pada 1 Juli 2018 lalu. Sedangkan harga BBM menjadi salah satu unsur biaya distribusi.

“Potensi kenaikan harga Dexlite yang berdampak pada biaya angkutan komoditas strategis menjadi hal yang memengaruhi pada sisi core dan administered price,” kata Wakil Ketua TPID yang juga Deputi Bank Indonesia (BI) Kalteng, Setian, Jumat (3/8/2018).

Selain masalah harga BBM ini, Setian juga menjelaskan prospek ke depan masih dibayangi oleh berlanjutnya dampak tahun ajaran baru sekolah dan perguruan tinggi terhadap komoditas pendidikan dan buku tabungan anak. Sehingga masih bisa berdampak pada inflasi.

Hal selanjutnya yang patut jadi perhatian menurut Setian adalah tingginya gelombang di pesisir selatan Kalimantan Tengah dapat berpotensi pada turunnya hasil tangkapan ikan laut nelayan Kalteng.

--page

“Selain itu juga, potensi meningkatnya tekanan harga komoditas bahan pangan strategis menghadapi periode Idul Adha,”katanya. (ROZIQIN/B-2)