BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dua eks pekerja seks komersial (PSK) yang pernah beroperasi di lokalisasi Sungai Pakit, Kecamatan Pangkalan Bamteng, kembali ke Kotawaringin Barat.
Padahal, keduanya termasuk dalam rombongan yang dipulangkan secara resmi Menteri Sosial pada 15 Mei 2018 lalu, dari Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) ke daerah asalnya Provinsi Jawa Timur.
Dua eks PSK itu yakni ND dan RIS asal Dusun Penitik, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur.
Keduanya ketahuan kembali setelah diamankan personel Satpol PP Kobar, Rabu (8/8/2018) sekitar pukul 12.00 WIB dari sebuah barak di Desa Karang Mulya, Kecamatan Pangkalan Banteng.
Kabid Penegakkan Perda dan Penyidik PNS Dinas Damkar dan Satpol PP Kobar, Mustawan Lutfi mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan, belum ditemukan bentuk pelanggaran perda yang dilakukan kedua eks PSK itu.
--page
"Berdasarkan pemeriksaan, mereka berdua datang ke Kabupaten Kobar lantaran diajak pacar untuk bekerja sebagai tukang masak di sebuah perkebunan sawit. Saat diamankan, mereka tidak melakukan pelanggaran perda," jelas Luthfi.
Walau demikian, lanjut Luthfi, pihaknya terus memantau aktivitas keduanya. Sebab, tidak menutup kemungkinan akan mengulangi aksi yang melanggar perda.
"Hal ini tetap kami laporkan ke atasan dan kemudian diteruskan kepada Bupati Kobar. Untuk tindakan selanjutnya, kami masih menunggu petunjuk," jelas Luthfi.
Kedua eks PSK tersebut mengatakan kedatangan ke Kobar memang untuk mencari pekerjaan. Tetapi bukan sebagai PSK.
"Kami datang sekitar tanggal 27 Juli 2018 menggunakan kapal laut. Pacar saya menawarkan untuk bekerja sebagai tukang masak di perkebunan sawit," kata salah seorang wanita itu.
--page
Dia menambahkan, uang bantuan pemulangan yang diberikan pemerintah untuk modal usaha di kampung halaman sebesar Rp 9,5 juta, saat ini sudah habis terpakai.
"Uang itu digunakan untuk tambahan modal warung dan membayar utang keluarga. Saat ini kami memerlukan tambahan penghasilan, makanya kami menerima tawaran untuk bekerja di perkebunan sawit," jelas keduanya. (WAHYU KRIDA/B-11)








