PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Anak laki-laki lebih banyak mengalami kekerasan ketimbang anak perempuan.

Berdasarkan survei yang dilakukan tahun 2013, dari 3 juta responden ada 1 dari empat anak laki- laki mengalami kekerasan fisik.

Sedangkan untuk anak perempuan, dari 1,5 juta responden ada 1 dari 7 anak perempuan mengalami kekerasan fisik.

"Selama ini kan kita beranggapan, anak perempuan lah yang harus dijaga benar-benar, berbeda dengan anak laki-laki kalau ada apa-apa pasti jawabannya ah kan anak laki-laki. Padahal sebaliknya. Anak laki-laki pun rentan menjadi mangsa predator," kata Fasilitator dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabag Hukum dan Kepegawaian, Sesdep II, Imiarti di hadapan peserta pelatihan bagi anggota Forum Puspa di Aquarius Boutique Hotel Palangka Raya, Kamis (9/10/2018).

Untuk itu, orangtua juga harus disadarkan, mendidik anak atau mengawasi anak laki-laki dan perempuan itu sama saja.

"

--page

Anak laki-laki dan perempuan itu sama saja. Anak adalah investasi masa depan, pola pengasuhan orangtua sangat memegang peranan," terangnya.

Anak merupakan potret orangtua. Kalaupun ada masalah anak seperti anak tumbuh menjadi pemarah, pendendam, kata Imi, runtut ke belakang. "Bagaimana pola pengasuhan anak di masa kecil?"

Ia melanjutkan ada anak-anak rentan yang harus mendapatkan perlindungan khusus. Yakni anak korban kekerasan, anak yang orangtuanya bercerai dan anak korban perdagangan. "Sudah banyak undang-undang yang melindungi hak-hak anak." (Oktrika/B-6)