BORNEONEWS, Sampit - Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kotawaringim Timur, Muhammad Shaleh menyatakan insiden tongkang yang menabrak sejumlah bangunan warga harus menjadi peringatan bagi semua pihak yang menggunakan alur sungai itu untuk kegiatan sehari-hari.
Karena menurutnya lalai sedikit saja maka berpotensi membahayakan nyawa penduduk di sekitar banntaran sungai.
Agar tidak terulang ia mendesak agar pihak terkait membentuk tim investigasi untuk mengetahui penyebab terjadinya insiden tersebut.
Apalagi tongkang bermuatan pasir dari galian C sungai itu kabarnya sengaja hanya diikat disebatang pohon, tanpa menggunakan jangkar labuh.
"Perlu dipertanyakan standar penerapan aturan di pelayaran, ini tidak main-main karena korbannya menuntut ganti rugi terus," kata Shaleh, Selasa (14/8/2018).
--page
Selain itu pihaknya juga meminta kepada pemerintah maupun pihak terkait lainnya untuk mengawasi penambangan alur sungai Mentaya, apalagi belakangan ini marak dilakukan.
Karena harus bisa dipastikan apakah itu ada atau tidak izin operasionalnya karena sejauh ini masih belum tahu.
"Barang yang diangkut itu hasil tambang pasir sungai yang nampaknya baru saja dikeruk, maka dari itu harus ditelisik lebih jauh bukan hanya soal ganti rugi saja,“ katanya.
Shaleh juga meminta kepada KSOP Sampit dan pihak penyedia jasa angkutan tersebut untuk lebih bersikap tegas. Apalagi menurutnya ini ada faktor kelalaian.
"Jangan sampai masalah ini menguap begitu saja tanpa adanya penyelesaian," pungkasnya. (NACO/B-6)








