BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) H Abdul Kadir menyebutkan justru saat ini warga di daerah pedalaman yang sudah mulai menyadari bahaya kebakaran hutan dan lahan.
Hingga termasuk kepada ancaman pelaku pembakar. Hal itu dibuktikan dengan titik api tidak lagi tersebar ke pedalaman dalam kurun waktu 2018 ini. Justru sebaliknya kebakaran banyak bahkan sulit dimatikan diperkotaan karena hanya mengharapkan petugas posko saja.
"Kita lihat sekarang hot spot itu justru ada di daerah sekitar perkotaan. Dibanding tahun sebelumnya Karhutla juga menyebar merata hingga ke pelosok pedalaman," kata Kadir, Kamis (16/8/2018).
Bahkan kata Kadir saat ini sistem cocok tanam padi itu dengan cara lama membakar lahan sekarang tidak lagi dilakukan, sawah dibajak dengan alat mesin dari pemerintah.
Maka itu menurut dia yang menyebabkan minimnya karhutla dipedalaman. Apalagi pemerintah belakangan ini gencar menyalurkan bantuan untuk kelompok tani untuk mengolah lahan.
--page
"Memang itu tidak mudah. Tranformasi dari pola tradisional memang berat. Bahkan sejak awal masyarakat banyak putus asa dan tidak bercocok tanam, mereka berlasan tidak punya alat untuk land clearing tetapi dalam perjalannya kita terus sosialisasikan dan dibarengi dengan penyaluran bantuan dan edukasi pertanian, alhasil petani kita mulai ke arah modern," pungkasnya.
Tidak hanya itu dengan banyaknya spanduk peringatan agar tidak membakar lahan dengan adanya ancamam pidana juga dianggap berjalan dengan baik. Sehingga masyarakat berpikir jika ingin membuka lahan dengan cara membakar. (NACO/B-5)








