BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpeluang menguat pada perdagangan Senin (20/8/2018) setelah ditutup menguat 0,16% pada level 2.238 akhir pekan lalu.
"Pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, diharapkan dapat mendukung kenaikan nilai ekspor CPO dari Indonesia," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Senin.
Ekspor CPO periode Juli dari Indonesia diperkirakan akan mencapai level tertinggi 11 bulan hingga 2,780 juta ton atau naik 21% dari bulan sebelumnya, kata Arie.
Saat ini pasar masih menantikan rilis data aktual ekspor Indonesia dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang akan jatuh tempo dalam dua pekan.
Ekspor terlihat naik karena pengapalan CPO yang kuat ke India diperkirakan naik 24% menjadi 304.380 ton, berbalik penurunan 20% pada Juni. Untuk ekspor CPO Malaysia ke India terlihat tidak mengalami penurunan yang diperkirakan mencapai 59.000 ton terhadap rata-rata ekspor sebesar 150.000 ton sebelum tarif impor diterapkan.
--page
Namun ekspor olein sawit RBD Indonesia diperkirakan menurun sebesar 17-20%, sedangkan sawit RX Malaysia olein naik lebih dari empat kali lipat menjadi lebih dari 40.000 ton.
Ekspor Indonesia melonjak pada Juli karena harga CPO yang lebih bersaing dibandingkan dengan Malaysia, ditambah lagi rupiah yang melemah terhadap dolar AS sehingga membuat ekspor lebih kompetitif.
Untuk harga CPO kontrak November 2018 pada Senin ini dibuka di level RM2.257, dengan level tertinggi di RM2.260 dan level terendah di RM2.246, dengan harga saat ini sedang berada di level RM2.255.
"Potensi pelemahan pada hari ini perlu konfirmasi penembusan level support RM2.235 (Support 1), RM2.225 (Support 2), dan RM2.200 (Support 3), dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.260 (Resisten 1), RM2.275 (Resisten 2) dan RM 2.285 (Resisten 3)," ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








