BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, H Abdul Kadir mengakui jika potensi dan pemasaran sapi di daerahnyasangat menjanjikan.
Namun sayang menurutnya potensi itu tidak pernah digali maksimal oleh pemerintah. Selama ini Kotim masih bergantung pasokan sapi dari luar daerah.
Dijelaskan, potensi pengembangan program sawit dan sapi itu sebenarnya menjanjikan, itu bisa dengan melakukan integrasi usaha budidaya sapi dengan usaha pertanian atau perkebunan itu.
Salah satu peluang sistem integrasi yang dapat menampung usaha budidaya sapi potong adalah dengan perkebunan kelapa sawit yang luasnya hampir mencapai ratusan ribu hektare di Kotim.
"Kita menyayangkan selama ini itu tidak maksimal digarap. Seandainya semua perusahaan perkebunan mengembangkan itu, maka kebutuhan daging lokal bisa terpenuhi, pemerintah harus mendorong itu," kata Kadir, Kamis (23/8/2018).
--page
Dia mencontohkan jika pihak perkebunan itu punya 50 hektare lahan maka ada 25 ribu sapi yang harus dipelihara yang terintegrasi dengan program perkebunannya.
Karena menurut dia setiap dua hektare perkebunan sawit itu bisa diarahkan untuk memelihara 1 ekor sapi.
Namun saat ini kata dia untuk menerapkan itu tidak ada aturan yang memaksa perusahaan perkebunan.
Setidaknya itu harus dituangkan melalui sebuah peraturan daerah. Dengan demikian ada dasar hukum untuk mengikat dan memaksa perusahaan bisa melaksanaanya di Kotim.
Dari itu ia berkeinginan kedepannya ada gagasan untuk membuat sebuah perda yang mengatur tentang itu, karena jangan sampai selama-lamanya mendatangkan sapi dari luar daerah, sementara pakannya melimpah. (NACO/B-6)








