JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) terus melakukan berbagai upaya agar harga tandan buah segar (TBS) sawit petani membaik, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Komitmen itu diungkapkan Ketua Umum III GAPKI Susanto dalam keterangan tertulis akhir pekan lalu. Menurut dia, rendahnya harga TBS sawit mengakibatkan petani malas untuk mengelola kebunnya sehingga mereka tidak memiliki penghasilan tetap.

Jika kondisi ini tak segera ditangani, hal itu akan mempengaruhi produktivitas sawit Indonesia dan berpotensi mengalami tekanan dari industri sawit Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua dunia. 

"Kami akan terus menerus dan tidak pernah lelah untuk melakukan berbagai pembenahan dalam industri ini, agar harga TBS bisa membaik dan masyarakat yang mengandalkan hidupnya dari perkebunan sawit bisa sejahtera," katanya.

Salah satu isu yang berkembang di masyarakat adalah keluhan para petani sawit atas rendahnya harga TBS sawit, yang mengakibat masyarakat tak lagi giat dalam mengelola kebun sawit. Akibatnya, masyarakat penggarap lahan perkebunan sawit tidak mempunyai penghasilan tetap.

Diperlukan keseriusan dari semua pemangku kepentingan agar industri kelapa sawit nasional tetap menjadi andalan bagi pertumbuhan ekonomi. 

Ketua Umum GAPKI Joko Supriono mengatakan bisnis industri kelapa sawit terbukti mampu mendongkrak perekonomian negara, karena hingga saat ini komoditas ini sebagai salah satu penyumbang terbesar devisa bagi Indonesia.

"Kami yakin, apabila pemerintah mendukung secara penuh pengembangan industri kelapa sawit, tingkat perekonomian negara kita akan kuat, bahkan mampu besar menyaingi negara-negara lainnya," kata Joko.

Menurut Joko, sawit sebagai salah satu komoditas andalan telah menyumbang porsi sekitar 15 persen dari total ekspor non-migas. Artinya, hal itu dapat dimaksimalkan dalam jangka pendek untuk mengatasi masalah perekonomian Indonesia yang saat ini naik turun.

Ia mengatakan industri sawit sebenarnya punya peranan penting bagi perekonomian Indonesia di tengah tergerusnya devisa. Hal itu akibat penguatan dolar AS terhadap rupiah dan defisit neraca perdagangan hingga Juni lalu.

Pada semester pertama 2018, ekspor CPO turun enam persen menjadi 14,16 juta dibanding periode yang sama tahun lalu 15,04 juta. Hasilnya, neraca perdagangan Indonesia otomatis menjadi defisit US$2,03 miliar. (NEDELYA RAMADHANI/m)