JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Melorotnya harga kedelai di bursa komoditas Amerika awal pekan ini telah memberikan tekanan terhadap pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO). 

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andy Wibowo Gunawan, menyatakan saham sektor CPO minim katalis positif sehingga mendapat rekomendasi netral, kendati volume produksi dan penjualan emiten perkebunan diperkirakan meningkat pada tahun ini, sehingga harga komoditas cenderung tertekan.

"Permintaan memang masih banyak, terutama untuk minyak goreng karena lebih murah dibandingkan minyak nabati lainnya. Tapi belum ada katalis baru," katanya dalam risetnya, Selasa (28/8/2018).

Menurutnya, jika harga minyak mentah Brent bisa menembus US$80 per barel, permintaan CPO untuk biodiesel bisa meningkat sigifikan. 

"Sentimen ini dapat menjadi katalis baru yang dapat mendongkrak harga CPO," katanya.

--page

Adapun saham perkebunan pilihan Mirae adalah PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dengan target harga Rp2.000 per saham.

Sementara itu, harga CPO bergerak positif pada perdagangan Selasa (28/8/2018), bangkit dari level terendah satu pekan yang disentuh pada Senin. 

"Sentimen positif datang dari pelemahan kurs ringgit yang menyebabkan harga CPO menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Selasa. 

Meski demikian, kata Arie, penguatan harga CPO kemungkinan akan terbatas mengingat saat ini masih dibayangi sentimen negatif dari penurunan harga minyak kedelai.  

"Hingga hari Senin kemarin, CPO telah turun empat hari beruntun, mengikuti penurunan harga minyak kedelai. Sebagai kompetior, penurunan harga minyak kedelai tidak akan menguntungkan bagi CPO, sehingga pergerakan keduanya cenderung berkorelasi positif," ucapnya. 

--page

Harga minyak kedelai pada Senin berada di level terendah enam pekan, penurunan terjadi akibat prediksi lonjakan hasil panen di AS.

Adapun CPO untuk kontrak November di Bursa Derivatif Malaysia diperdagangkan di kisaran 2.232 ringgit per ton, dengan rentang perdagangan potensial hari ini adalah 2.190 - 2.245 ringgit per ton.  (NEDELYA RAMADHANI/m)