BORNEONEWS, Sampit - Di balik kegembiraan tim tari Kalimantan Tengah (Kalteng) yang rata-rata merupakan penari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ada kisah sedih dari mereka sebelum berhasil meraih prestasi membanggakan di kancah nasional tersebut.
Hal itu terungkap setelah mereka datang dengan bangga membawa piala bergilir juara umun parade tari nusantara tersebut.
Di mana sebelum berangkat mewakili provinsi ini ke Jakarta, ada kisah sedih sekaligus memilukan bagi mereka. Mulai dari sisi keuangan hingga fasilitas latihan yang tidak memadai.
Menurut Ketua Rombongan Tim Tari Kalteng Dody Eka, dalam meraih mimpi tersebut bukan hal yang mudah dan harus melewati sejumlah rintangan. Seperti tempat latihan yang harus berpindah-pindah.
"Awalnya kami latihan di sanggar tari Jalan A Yani, kemudian kami harus pindah ke gedung KNPI di Jalan Yos Sudarso, Sampit," ujar Dody, Rabu (29/8/2018).
--page
Itu terpaksa mereka lakukan karena bangunan sanggar tari yang biasanya digunakan masih dalam perbaikan. Sehingga latihan yang dilaksanakan selama dua kali dalam sehari dimasa persiapan dua bulan harus pindah ke KNPI.
Tidak hanya sampai di situ saja, yang lebih menyedihkan lagi bagi para penari adalah minimnya keuangan. Bahkan untuk berangkat ke Jakarta sekalipun, mereka harus patungan. Ini agar bisa tampil di ajang nasional tersebut.
"Kami sangat sedih saat itu, karena tidak ada bantuan dari berbagai pihak. Namun tekad kami sangat kuat untuk membawa nama harum Kalteng dan juga Kotim ini," terang dody.
Namun kesedihan tersebut berkurang setelah Dinas Pariwisata Kalteng memfasilitasi secara administrasi dan surat-menyurat pendaftaran, hingga mengurus penginapan di Angjungan Kalteng.
Beruntung atas semua kekurangan tersebut pada akhirnya kerja keras mereka bisa terbalaskan dengan kegembiraan. Mereka berhasil meraih juara umum di parade tari nusantara tersebut. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








