BORNEONEWS, Sampit - Pengamat hukum dan sosial di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Agung Adisetiyono menyayangkan prestasi putra daerah di bidang seni yang berhasil dapat piala bergilir juara umum nasional pada Parade Tari Nusantara tidak mendapatkan perhatian dari pemkab setempat.
Pernyataan Agung bukan tanpa dasar. Itu bisa dilihat mulai dari kedatangan mereka hingga arak-arakan yang mereka lakukan tanpa adanya dukungan dari pemkab maupun instansi terkait lainnya.
Melihat kondisi ini tentu menurut dia, sangat tidak sejalan dengan program gauangan Bupati Kotim H Supian Hadi yang akan meningkatkan sektor kepariwisataan di daerah ini.
"Kita harusnya bangga dengan torehan prestasi dari teman-teman di Kotim. Pemkab harus laksanakan janji yang sudah dilontarkan untuk kembangkan sektor pariwisata itu, daerah lain ingin seperti itu namum tidak mampu," ucap Agung.
Pemkab Kotim jangan sampai hanya membuat slogan saja tanpa adanya tindakan nyata di lapangan. Karena prestasi yang sudah diraih itu aset yang bisa dijual untuk pariwisata daerah ini.
--page
"Mau jual kesenian daerah kita, bagaimana bisa diwujudkan jika pelaku seni saja tidak dapat perhatian seperti itu," ucapnya.
Jika kondisi terus seperti ini tokoh muda di Kotim ini pesimistis pariwisata di Kotim bisa berkembang dengan baik. Sehingga untuk mengembangkan itu perlu aksi dan tindakan nyata termasik dari dinas yang membidangi yakni Kebudayaan dan Pariwisata.
Menurut advokat muda di Kotim ini, sektor pariwisata memang harus didukung dari semua sektor salah satunya seni.
"Jangan sampai aset kita ini diambil oleh daerah lain. Karena itu bisa saja terjadi jika pemerintah tidak memperhatikan mereka," pungkasnya.
Setelah 37 tahun penyelenggaraaan Parade Tari Nusantara, sebuah ajang bergengsi tingkat nasional, baru tahun 2018 inilah Kalimantan Tengah (Kalteng) memperoleh piala bergilir. Kontingen dari Kotim lah yang berhasil membawa piala Juara Umum ini ke tahan Dayak ini. (NACO/B-5)








