BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kebijakan mandatori biodiesel B20 akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh sejumlah emiten perkebunan yang memiliki kapasitas produksi besar.
Emiten di sektor perkebunan kelapa sawit diprediksi akan semakin membaik dari sisi kinerja maupun harga saham karena pemberlakuan kebijakan wajib B20 ini.
"Sentimen terbaru terkait Crude Palm Oil (CPO) yaitu kebijakan B20. Kebijakan ini menguntungkan emiten perkebunan dan berdampak positif dengan kinerjanya,” kata Kepala Riset Narada Asset Management, Kiswoyo Adi Joe, dalam risetnya.
Keuntungan dari kebijakan ini akan membuat permintaan pasar CPO semakin besar, sehingga membuat emiten menggenjot produksi. Dampaknya, harga yang ditawarkan emiten akan tinggi dan pendapatan akan bertambah.
"Semua emiten perkebunan akan merasakan dampak positifnya. Hanya saja, beberapa emiten yang memproduksi dengan kapasitas besar akan lebih untung seperti PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT)," papar Kiswoyo.
--page
Pemerintah Indonesia mewajibkan semua kendaraan bermesin diesel menggunakan bahan bakar minyak solar bercampur biodiesel 20% (B20). Kebijakan ini berlaku per 1 September 2018.
Dengan kebijakan ini, lanjut Kiswoyo, bisa menjadi angin segar bagi emiten.
"Kalau dikatakan akan diundur pengaruhnya tidak terlalu bagus. Karena memang butuh dan kalau tidak ada B20, maka impor minyak akan terlalu besar,” ujarnya.
Dari sisi saham, Kiswoyo menargetkan sampai akhir tahun harga saham GZCO Rp100 per saham. Sementara BWPT Rp300 sampai Rp350 per saham, LSIP (London Sumatra Palntations) Rp1.800 sampai Rp2.000 per saham, dan AALI (Astra Agro Lestari) Rp18.000 per saham. (NEDELYA RAMADHANI/m)








