BORNEONEWS, Sampit - Kondisi ekonomi masyarakat kian melemah, daya beli masyarakat cenderung menurun. Bahkan dikhawatirkan adanya pelemahan ekonomi tahun ini seccara global dan akan berdampak besar bagi Kotawaringin Timur.
Salah satunya, menurut Wakil Ketua DPRD Kotim Parimus, bisa berdampak akan naiknya tingkat angka kemiskinan di daerah ini. Tentu ini akan jadi pekerjaan yang berat.
Parimus menjelaskan, belakangan ini perusahaan besar swasta dan sektor perusahaan lainya terpukul keras. Tidak sedikit ada perusahaan yang harus merumahkan karyawan hingga ke pengurangan gaji untuk tetap bisa mempertahankan karyawannya. Di antaranya karena adanya permasalahan di pemasaran hasil CPO ke pasar dunia
Oleh karena itu, lanjut dia, semuanya perlu waspada dengan terjadinya pelemahan ekonomi global dan nasional pada 2018 ini, yang tentunya akan berpengaruh pada kecenderungan meningkatknya angka kemiskinan dan pengangguran.
"Kini usaha warga di sektor kelapa sawit mendapatkan ujian berat. Harga buah kelapa yang masih berfluktuatif, belum lagi ada persoalan TBS warga yang ditolak perusahaan," kata Parimus, Kamis (30/8/2018).
Begitu juga saat ini, menurut dia, harga rotan dan karet turun. Memang secara statistik pemerintah mengklaim kondisi ekonomi masyarakat baik-baik saja, namun secara riil di lapangan terutama di pelosok selalu menurun. (NACO/m)








