PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya- Kebakaran hutan dan lahan di perbatasan Desa Taruna dengan Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, yang terjadi pada Jumat (31/8/2018) sekitar pukul 16.00 WIB, dikritisi pendiri Jumpun Pambelom, Januminro Bunsal.

"Pembuatan kanal yang tidak terkontrol menjadi pemacu kebakaran lahan yang terjadi pada Jumat hingga Sabtu kemarin. Dari pinggir jalan lintas, asap terlihat membubung tinggi dan menyebar. Kanal-kanal yang dibuat sejumlah pihak untuk berbagi kapling gambut, pada saat musim kering secara nyata menguras air. Sebab beberapa kanal induk bermuara ke Sungai Kahayan. Di lain waktu, saat musim hujan dan air sungai pasang, air dengan cepat menenggelamkan kawasan," kata Januminro kepada Borneonews, Minggu (2/9/2018).

Menurut Januminto yang juga menjabat sebagai kepala Badan Kesbangpol Kota Palangka Raya, dia, pembuatan kanal turut menyebabkan danau oxbow menjadi kering. Sehingga mempercepat sebaran api yang membakar rumput pada kawasan itu.

"Menyelesaikan persoalan kebakaran tidak sekadar hanya memadamkan dan membuat sumur bor. Sepanjang kita meluputkan dan mengabaikan persoalan utamanya, maka api akan terus membakar gambut," tegasnya.

Jumpun Pambelom sendiri merupakan kawasan rehabilitasi hutan gambut hijau, yang terletak sekitar 30 km dari Palangka Raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Luasnya sekitar 10 hektare. 

--page

Pengunjung bisa menelusuri hutan dengan jalan khusus dari kayu di tengah kehijauan pohon yang merupakan etalase rehabilitasi hutan gambut yang dibuat dengan nama-nama jenis yang pohon dipajang.

Kritik dari Januminro ini tidak dikeluarkan begitu saja tanpa ada aksi. Pasalnya saat kebakaran terjadi, relawan Jumpun Pambelom lah yang pertama kali turun untuk berusaha memadamkan api yang sudah terlanjur meluas itu.

"Relawan Jumpun Pambelom yang memantau ke lokasi menghadapi masalah air yang terbatas dan akses menuju lokasi yang sulit. Posisi kebakaran itu berjarak sekitar 3 kilometer dari tepi jalan lintas Palangka Raya-Pulang Pisau km 30,5," ceritanya.

Hingga lewat tengah malam hari itu menurut Januminro, kebakaran belum dapat dikendalikan. Bahkan kebakaran mendekat ke pemukiman Desa Tanjung Taruna.

"Ratusan personil TNI, Polri MPA, BPBD, Damkar Dishut Kalteng, dan Relawan Jumpun Pambelom kesulitan memadamkan karena pergerakan api yang cepat membakar semak kering. Selain itu, sumber air posisi jauh dari titik api. Di lapangan ada keinginan membuat sumur bor namun pergerakan api yang begitu cepat membuat upaya itu diurungkan untuk menjamin keselamatan personel agar tidak terjebak dalam lautan api," tuturnya.

--page

Pada Sabtu (1/9/2018) mujizat Tuhan terjadi. Hujan turun sejak pagi menjelang siang sehingga sangat membantu meredam kebakaran gambut. (TESTI PRISCILLA/B-3)