BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pengamat industri minyak nabati yang juga direktur Godrej International, Dorab Mistry, merevisi turun produksi minyak sawit (CPO) Malaysia 2018 menjadi 19,2-19,5 juta ton, sedangkan produksi Indonesia naik menjadi 38,5 juta ton.
Pada Maret lalu, Mistry memprediksi produksi CPO Malaysia 2018 mencapai 20,5 juta ton dan Indonesia di angka 37,5 juta ton.
Menurut dia, industri sawit Malaysia menghadapi dua kondisi yang memukul performa industri mereka, yakni lesunya harga CPO dan rendahnya produksi.
Dari sisi produksi, menurut Mistry, negeri itu sudah mengalami tekanan sejak siklus tinggi mulai Maret 2017 hingga Januari 2018.
Namun demikian, ucapnya, stok minyak sawit baik di Indonesia maupun Malaysia diprediksi naik dalam beberapa bulan ke depan.
--page
"Stok minyak sawit di Indonesia sudah mendekati 5 juta ton dan secara bertahap akan terus meningkat. Untuk stok Malaysia saat ini sekitar 2,2 juta ton dan akan naik tajam pada kuartal IV tahun ini seiring siklus produksi yang meningkat," imbuh Mistry.
"Hingga akhir Desember 2018, stok Malaysia dapat naik menjadi antara 3-3,3 juta ton. Akan tergantung seberapa cepat harga minyak sawit diizinkan untuk turun."
Sebelumnya, Mistry menyebut harga CPO perlu turun menjadi RM2.100 per ton agar bisa kembali kompetitif, bahkan setelah jatuh 12 persen sejak awal tahun ini akibat lesunya permintaan. (NEDELYA RAMADHANI/m)








