BORNEONEWS, Sampit - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur jadi sasaran serang hingga kekecewaan warga sejumlah desa atas pernyataannya yang menganggap sepele masalah kematian ikan secara massal di Desa Sebabi, Tanah Putih hingga Runting Tada, Kecamatan Telawang.
"Terus terang kami kecewa dengan Kadis Lingkungan Hidup. Ia dengan mudah menyatakan bahwa itu diracun putas," kata warga Tanah Putih, Hendrikus Hendra, Senin (3/9/2018) saat rapat dengar pendapat di DPRD Kotim.
Karena menurut dia, secara kasat mata sejak Rabu (28/8/2018) terlihat jelas kematian ikan massal itu sangat tidak masuk akal jika mati akibat racun putas. "DLH harus netral jangan membela perusahaan. Hari ini kami bawa Pesor DLH harus kita sumpah," tukasnya.
Begitu juga dengan Sekretaris Komisi II DPRD Kotim Alexius Esliter. Menurutnya, fakta yang mereka lihat kondisi sungai berminyak, bahkan ada gumpalan limbah dari perusahaan.
"Terus terang saya kecewa juga dengan DLH, secepat itu menyimpulkannya," tegas politisi PDI Perjuangan itu.
"Kalau memang itu diputas berapa tangki putas yang diperlukan, apakah mungkin diputas, benar tidak?" tambah Dani Rakhman, anggota Komisi II DPRD Kotim yang disambut dukungan warga.
--page
Warga maupun kalangan legislator itu tidak sepakat dengan pernyataan DLH. Apalagi DLH baru turun pada Minggu (2/9/2018) setelah beberapa hari kematian ikan dan di sana sudah diguyur hujan.
"DLH turun cuma tes kadar air saja. Makanya kami mendukung agar disumpah semuanya. Biar masalah ini tidak dimainkan," timpal Ketua Komisi III DPRD Kotim, Rimbun. (NACO/B-2)








