BORNEONEWS, Palangka Raya – Ancaman inflasi pada bulan-bulan ke depan adalah adanya potensi ancaman asap kebakaran hutan yang dapat berdampak pada produktivitas tanaman bahan makanan.
Selanjutnya, tingginya gelombang dipesisir selatan Kalimantan Tengah (Kalteng) dapat berpotensi pada turunnya hasil tangkapan ikan laut nelayan Kalteng. Dua hal ini faktor ini yang memengaruhi inflasi di sektor bahan makanan (volatile foods).
Di luar itu, masih ada faktor lain yaitu kenaikan harga emas yang didorong oleh peningkatan harga emas dunia, serta kenaikan barang-barang impor sebagai dampak dari depresiasi nilai tukar.
“Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) harus mengenali kondisi terkini dan menyiapkan rencana aksi untuk mengantisipasinya melalui kordinasi dinas terkait,” ujar Kepala Perwakilan BI Kalteng Wuryanto yang juga TPID Kalteng, Rabu (5/9/2018).
Antara lain, pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Dagperin) Kalteng, akan dilakukan peningkatan aksesibilitas menuju pelabuhan Bahaur, Pulang Pisau, sehingga frekuensi transportasi barang antar laut dari Jawa Timur menuju Kalteng dapat dipersingkat.
--page
Di Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kalteng, dilakukan pemenuhan stok ikan nila dan ikan patin di pasar penyeimbang, serta penjualan ikan di area kolam penyangga. (ROZIQIN/B-5)








