SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Sejak Juli 2018 hingga Agustus 2018 setidaknya ada 10 laporan gangguan satwa dilindungi oleh masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit. 

"Ada 10 laporan warga tentang gangguan satwa dilindungi di Kotim dalam dua bulan terakhir ini," ujar Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah, Rabu (5/9/2018). 

Ke-10 laporan tersebut terdiri dari tujuh laporan pada Juli 2018. Dan tiga laporan pada Agustus 2018. Yang mana didominasi di pinggiran Kota Sampit. 

Tujuh laporan yang diterima pada Juli 2018 sendiri yakni : 

1. Gangguan orangutan dewasa dengan jenis kelamin jantan di kebun sawit masyarakat, sekitar PT Menteng, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU). Namun setelah dilakukan pengecekan OU tersebut sudah tidak ada dilokasi. 

2.  Gangguan dua ekor OU di lokasi yang sama. Namun ketika dilakukan observasi, pihak BKSDA juga tidak mendapati hewan dilindungi tersebut. 

--page

3. BKSDA juga  menerima laporan dari masyarakat di Desa Bagendang, Kecamatan MHU, dimana tiga ekor OU berupa induk dan anaknya berada di Hutan Tanaman Rakyat. Tidak sempat mereka lakukan pengecekan. 

4. Gangguan sekor OU dengan jenis kelamin jantan dewasa, di kebun karet warga Desa Basirih Hilir. Yang mana berdekatan dengan  lokasi kebakaran hutan dan lahan. Namun saat dilakukan pengecekan, OU sudah tidak ada.

5. Gangguan seekor OU di kebun buah warga, daerah Kecamatan Pulau Hanaut. Yang mana dilaporkan langsung oleh camat. Namun belum sempat cek lokasi oleh BKSDA. 

6. Gangguan 3 beruang madu di kebun karet dan buah warga Desa Tanah Mas, Kecamatan Baamang. Saat dilakukan pengecekan, juga tidam ditemukan adanya beruang madu tersebut. 

7.Gangguan 1 OU di Jalan Jendral Sudirman Km 6,5, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Dimana hewan dilindungi tersebut merusak kebun sawit masyarakat. Namun ketika di cek, sudah tidak ada keberadaannya. 

--page

Sedangkan pada Agustus 2018, ada tiga laporan gangguan satwa dilindungi, yakni :

1. Gangguan dua ekor OU di kebun karet dan buah warga di Desa Jemaras, Kecamatan Kota Besi. Yang mana gangguan tersebut dilapprkan oleh staf Kecamatan. 

2. Gangguan OU di kebun karet warga Desa Luwuk Ranggan, Kecamatan Cempaga. Kepala desa daerah itu yang melaporkan kepada pihak BKSDA dan belum dilakukan pengecekan. 

3. Gangguan OU di kebun karet warga Desa Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Kemungkinan besar kemunculan satwa liar tersebut akibat adanya Karhutla di daerah itu. 

Dari 10 laporan pada dua bulan terakhir tersebut, pihaknya hanya melakukan pengecekan saja. Tanpa ada satupun yang diamankan. Karena saat di cek kelokasi, mereka tidak menemukan hewan tersebut. 

"Kami sudah melakukan pengecekan di sejumlah daerah yang dilaporkan warga. Namun belum mendapati adanya satwa langka tersebut. Karena kemungkinan besar sudah pergi ke hutan," terang Muriansyah. 

--page

BKSDA meminta masyarakat agar selalu waspada dan berhati-hati saat beraktivitas di kebun. Selain itu, jika menemukan keberadaannya, segera lapor ke BKSDA dan jangan sampai diserang atau bahkan dibunuh. Karena akan mendapatkan hukuman pidana. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)