SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit, menerima 10 laporan gangguan satwa dilindungi selama Juli - Agustus 2018 ini. Jumlah itu cukup tinggi dibanding sebelumnya. Penyebabnya, diduga kuat karena maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

"Di beberapa desa ada laporan gangguan satwa liar. Gara-gara karhutla, satwa menyelamatkan diri ke kebun hingga permukiman masyarakat," kata Komandan BKSDA Pos Jaga Sampit, Muriansyah, Rabu (5/9/2018). 

Dampak karhutla sangat besar terhadap habitat satwa dilindungi di hutan. Mulai dari kehilangan tempat tinggal dan wadah mencari makan. Untuk bertahan hidup, hewan itu masuk ke permukiman warga, mencari sumber makanan.

"Ada dua laporan gangguan orangutan dampak kebakaran lahan," kata Muriansyah. 

Contohnya, di Basirih Hilir, orangutan masuk kebun karet warga yang berdekatan lokasi karhutla. Kemudian, di Kecamatan Pulau Hanaut juga ada laporan gangguan satwa liar. 

--page

"Untuk laporan gangguan di perkotaan, belum bisa kami pastikan apakah karena karhutla atau karena satwa mencari makan," terang Muriansyah. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)