BORNEONEWS, Sampit - Pagi itu aktivitas di Sungai Sampit, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Kabupaten Kotawaringin Timur, tampak seperti biasanya. Sejumlah masyarakat memanfaatkan sungai untuk kebutuhan sehari-hari, ada juga sejumlah kelotok hilir mudik.
Sekilas memang keadaan itu normal, tetapi ada sebuah kelotok yang menyisakan cerita cukup menyayat hati.
Bagi yang tak sadar, memang kelotok itu sekilas untuk dimanfaatkan seperti biasa. Tapi ketika digali lebih dalam, kelotok kecil berukuran 3 x 1,5 meter itu dijadikan rumah pasangan suami istri berkebutuhan khusus.
Atap perahu itu hanya ditutup dengan terpal biru yang disangga dengan kayu seadanya. Di sana mereka menjalani kehidupan sehari-hari layaknya di rumah, mulai dari tidur, memasak, dan makan.
Pasutri yang memiliki kebutuhan khusus itu belum diketahui persis identitas jelasnya. Namun warga sekitar biasanya memangil suami dengan nama Anang Ehor, sedangkan istri dipanggil Badar.
--page
Mereka berdua sudah bertahun-tahun tidak memiliki rumah. Dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam perahu kecil tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, pasutri itu mencari ikan di bantaran Sungai Sampit, Kecamatan MHU. Jika mendapatkan hasil ikan yang cukup banyak, akan dijual kepada warga sekitar. Dan jika nasib tak terlalu baik, ikan yang didapat tadi dijadikan lauk makan.
Keduanya merupakan warga Desa Bagendang Hilir, Kecamatan MHU. Setiap ada resepsi pernikahan di sana, keduanya datang membantu bersih-bersih hingga mencuci piring.
Itu dilakukan agar bisa mendapatkan makanan sebagai imbal balik bantuan mereka. Mereka tak meminta-minta. Untungnya terkadang, ada pemilik hajat yang memberikan uang.
Anang Ehor ada cacat pada satu kakinya. Sehingga tidak bisa berjalan normal. Sementara istri, tunawicara. Mereka terkadang juga mendapat bantuan masyarakat sekitar, baik berupa makanan atau lainnya.
--page
Anang Ehor sendiri dikenal masyarakat sangat baik. Bahkan memiliki jiwa humoris dan rajin membantu warga.
Saat ini, warga sekitar membangunkan rumah seperti gubuk di tepi Sungai Mentaya, Desa Bagendang Hilir, Kecamatan MHU tersebut. Namun jauh dari kata layak.
"Ada dibuatkan oleha warga sekitar gubuk, namun kondisinya tidak permanen. Jadi pasutri ini lebih banyak tinggal di dalam perahu," kata Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa Kecamatan MHU Hasrul Hamid, Rabu (5/9/2018).
Dirinya mengaku belum bertemu langsung dengan pasutri itu. Karena saat datang ke gubuk mereka, keduanya pergi mencari ikan.
Sebelum tinggal di gubuk buatan warga Desa Bagendang Hilir itu, pasutri sempat menghuni pos polisi perairan di muara Sungai Sampit. Namun karena kondisinya rusak parah, sehingga mereka dengan terpaksa tinggal di perahu kecil eks milik Polair Polda Kalteng tersebut. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)








