BORNEONEWS, Sampit - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap inflasi di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Hal itu terjadi karena perhitungan inflasi dilakukan dalam sebulan. Sedangkan inflasi yang terjadi di Kotim pada Agustus 2018 lalu, tidak berdasarkan dampak tersebut.
"Secara khusus perlu ada tinjauan mendalam akan hal tersebut, karena perhitungan inflasi sendiri dilakukan sebulan sekali," ujar Kepala Seksi Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sampit Dendi, Sabtu (8/9/2018).
Namun secara umum dampak dari melemahnya rupiah tersebut membuat sejumlah barang mengalami kenaikan harga. Khususnya barang impor seperti kendaraan bermotor dan juga elektronik.
Selain itu, naiknya kurs dolar juga bisa berpengaruh terhadap harga tiket angkutan udara. Namun tidak langsung naik sangat tinggi, karena pemerintah memiliki batasan tarif akan hal tersebut.
--page
"Sehingga kami belum bisa memastikan dampak melemahnya rupiah terhadap inflasi di Sampit ini," kata Dendi.
BPS juga belum bisa memprediksi apakah pada September 2018 ini terjadi inflasi di Kotim atau tidak. Karena lebih dari 300 komoditas yang dihitung di Sampit ini. Jadi jika memang berpengaruh, maka tidak berdampak langsung terhadap inflasi. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)







