BORNEONEWS, Pulang Pisau – Panggilannya Naito. Ia salah satu peneliti dari Jepang, tepatnya Kyoto University. Ia datang ke Indonesia karena tertarik meneliti dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Dua hari kemarin, Kamis-Jumat ia berada di Pulang Pisau, khususnya di Desa Tumbang Nusa. Salah satu yang ia gali, adalah bagaimana dampak Karhutla dari berbagai segi, materiil dan non-material.
Daisuke Naito, lengkapnya, sempat berbincang dengan Borneonews di Desa Tumbang Nusa, Jumat (7/9/2018) sore jelang petang. Pembawaannya santai dan cukup ramah. Ia sedang menggali informasi dampak kebakaran kepada sejumlah warga.
Ia sudah lancar bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia walaupun belum disebut fasih. Naito mengaku sudah dua tahun berdiam di Sabah, Malaysia, dan di Indonesia berkisar setahun lamanya.
“Apakah bapak-bapak di sini merasakan dampak ekonomi, kena asap yang merusak kesehatan, dan ibu-ibu ada trauma juga, stress juga?,” tanya Naito kepada warga yang berkumpul di kantor Desa Tumbang Nusa, sore itu.
--page
Dengan bersahut-sahutan, warga desa yang berkumpul di ruangan kantor desa ukuran sekira 4x4 meter itu pun menjawab. Sebagian sedih dan kecewa karena lahan kebun karet terbakar kala itu. Bila diuangkan dan mengingat potensi rupiah bila bisa disadap beberapa waktu lagi, cukup besar di mata warga desa.
“Kalau stres secara kejiwaan hingga masuk rumah sakit sih tidak ada. Tetapi beban pikiran secara ekonomi kan tidak bisa dimungkiri. Pemulihan juga perlu biaya. Bantuan pemerintah tentu diharapkan. Kalau kesehatan, jelas berdampak ISPA terutama anak-anak,” terang warga.
Selain menggali dampak, Naito juga menggali kira-kira apa saja penyebab hutan dan lahan bisa terbakar dari suara warga, padahal jelas berdampak pada lingkungan sekitar mereka sendiri.
Naito datang bersama dengan satu teman penelitinya, sama-sama dari Jepang. Selain itu, beberapa peneliti lingkungan dari Universitas Palangka Raya (UPR) juga turut mendampingi. Peneliti lokal ini, lebih kepada bagaimana respon masyarakat atas Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).
Selain warga desa, juga hadir Anggota DPRD Pulang Pisau, Diharyo, yang ingin mendengar langsung aspirasi warga atas dampak Karhutla.
--page
Naito merupakan saintis di Center for International Forestry Research’s (CIFOR), dan juga bekerja di lembaga penelitian untuk kemanusiaan dan lingkungan.
Ia tipikal peneliti yang susah untuk diam, alias selalu aktif. Setiba kembali di Palangka Raya, Sabtu (8/9/2018) pagi hingga siang tadi, ia memantau dari udara upaya pemadaman Karhutla dengan ikut menumpang helikopter yang berjibaku melakukan penyiraman. (ROZIQIN/B-2)








