BORNEONEWS, Palangka Raya - Melemahnya rupiah hingga menyentuh Rp14.820 per dolar AS, tidaklah harus menyalahkan pemerintah. Pendapat ini disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan sekaligus sebagai Alumni Universitas Palangka Raya, Prof Dr. Ir. Bambang S. Lautt.
Pendapat tersebut juga sekaligus menyikapi adanya sebagian masyarakat dan tokoh yang menyalahkan Pemerintah Presiden Jokowi karena dinilai tidak mampu menjaga nilai mata uang rupiah.
“Melemahnya atau depresiasi rupiah disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu peningkatan nilai mata uang dolar," kata Bambang S Lautt, Senin (10/9/2018).
Dia menuturkan, meningkatnya mata uang dolar telah memicu yield US Treasury Bond terhadap nilai mata uang dunia, termasuk salah satunya rupiah. Sehingga, lanjutnya, hal ini menjadi permasalahan global.
“Sebagian besar negara dunia juga mengalami depresiasi. Nilai depresiasi rupiah itu sekitar 27%, depresiasi Yuan (Cina) 16,6% dan Baht (Thailand) sekitar 17%. Bahkan ringgit Malaysia mencapai 40%,” imbuhnya.
--page
Di sisi lain, melemahnya nilai rupiah saat ini juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintahan sebelumnya yang membiarkan rupiah menguat hingga Rp 8.455 ketika krisis finansial global tahun 2008.
Dirinya menilai kebijakan tersebut mengakibatkan nilai impor Indonesia terus naik melebihi nilai ekspor, sehingga mengakibatkan neraca perdagangan Indonesia defisit pada tahun 2013 dan nilai rupiah tembus ke angka sekitar Rp 11.000.
Nilai rupiah yang terlalu kuat terhadap dolar justru berdampak negatif terhadap komoditas ekspor Indonesia.
Bambang kembali berpendapat, Indonesia tidak mampu mengintervensi kebijakan pemerintah AS yang menaikkan suku bunganya.
Oleh karena itu, kunci untuk membendung tren melemahnya rupiah adalah mengurangi konsumsi barang impor, efisiensi anggaran dan dengan terus meningkatkan PDB.
--page
Indonesia juga perlu memperbesar produksi beras, jagung, kedelai, gula dan daging agar dapat mengurangi impor komoditas tersebut.
“Saya kira beberapa kebijakan pemerintah seperti pengurangan subsidi BBM, pembangunan infrastruktur, pembelian saham freeport dan menaikkan suku bunga, telah tepat," kata dia.
"Dalam perkembangan terakhir juga nilai rupiah sudah mulai menguat terhadap dolar AS sehingga langkah-langkah pemerintah terus harus didukung dengan optimisme publik,” tuturnya. (BUDI YULIANTO/B-11)







