BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sebagai upaya meningkatkan pangsa pasar minyak sawit di Pakistan, Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pakistan memberikan pemahaman kepada publik negeri itu mengenai manfaat kesehatan dari minyak sawit.
Edukasi itu dilakukan melalui seminar internasional berjudul "Palm Oil: Health, Nutrition & Development" di Islamabad pada awal pekan ini dengan menggandeng University of Agriculture Faisalabad (UAF), dan Faisalabad Chamber of Commerce and Industry (FCCI).
UAF dipilih karena merupakan universitas pertanian tertua di Pakistan dan menjadi salah satu rujukan lembaga otoritas pengawas makanan (Punjab Food Authority/PFA), yang pada tahun lalu merencanakan larangan peredaran produk Vanaspati Ghee (70 persen campuran sawit) pada Juli 2020 karena berbahaya bagi kesehatan di Provinsi Punjab yang berpenduduk lebih 110 juta.
Mengingat Pakistan salah satu pasar ke-3 terbesar Indonesia setelah China dan India, Duta Besar RI untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amri menilai bahwa langkah untuk meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan Pakistan mengenai amannya produk sawit dengan mensinergikan antara civitas kampus dan Kadin amat strategis.
"Mensinergikan kampus melalui lembaga risetnya dan Kadin sebagai pelaku industri patut digagas guna meyakinkan masyarakat Pakistan bahwa kelapa sawit aman, kaya nutrisi, dan sangat berpotensi meningkatkan perekonomian serta PDB kedua negara," tutur Iwan dalam keterangan tertulisnya.
--page
Seminar menghadirkan tiga narasumber yaitu dari IPB Indonesia, Dr. Puspo Edi, Dekan Fakultas Food, Nutrition dan Home Sciences, UAF, Prof. Dr. Masood Butt, dan Madina Group Industry Faisalabad, Rabia Ejaz.
Dalam paparan ketiga narasumber itu disebutkan bahwa minyak sawit adalah minyak nabati, banyak memiliki manfaat dan tidak berdampak buruk bagi kesehatan bahkan sangat kaya akan nutrisi, berbagai vitamin. Produk turunan sawitpun banyak diolah untuk sampo, sabun mandi, minyak goreng, biskuit, cokelat, kosmetik.
Selain itu, para hadirin juga diberikan pemahaman mengenai minyak sawit sebagai sumber alami karoten, vitamin A, yang memiliki peranan penting sebagai antioksidan, memelihara sel dan otot dari radikal bebas, serta meningkatkan ketahanan kesehatan kardiovaskular.
"Minyak sawit mengandung vitamin E paling tinggi jika dibandingkan dengan minyak nabati lain, riset membuktikan masyarakat Pakistan yang mengkonsumsi minyak sawit memiliki tingkat diet lebih baik daripada yang mengonsumsi minyak biji bunga matahari," kata pembicara dari UAF, Masood Butt.
Lebih lanjut disebutkan bahwa Vitamin E dalam minyak sawit terdiri dari 18,22 persen tocopherol dan 78,82 persen tokotrienol. Komposisi ini membuat minyak sawit sebagai minyak nabati dengan kandungan tokotrienol dan antioksidan tertinggi.
--page
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia juga telah melakukan langkah cepat sebagai antisipasi penurunan ekspor minyak sawit mentah (CPO) ke kawasan Uni Eropa, dengan melakukan penguatan kemitraan dagang dengan Pakistan.
Langkah itu juga sebagai upaya pemerintah untuk mempertipis defisit transaksi berjalan. Dalam kesempatan ini, pemerintah mengirimkan delegasi ke Pakistan untuk semakin mempererat hubungan dagang kedua negara, dan juga untuk meningkatkan volume ekspor minyak sawit ke negeri itu.
Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang mengatakan dalam misi dagang itu, delegasi Indonesia juga melibatkan sejumlah pelaku usaha sawit.
Di sisi lain, Indonesia juga melakukan diplomasi dagang ke Uni Eropa dan Rusia, dan untuk kunjungan ke Pakistan ini dinilai strategis, karena negeri itu merupakan pembeli CPO ke-4 terbesar setelah India, Uni Eropa dan Tiongkok.
--page
Togar menceritakan bahwa Pakistan memenuhi kebutuhan minyak sawitnya, mayoritas diimpor dari Indonesia, yakni sebanyak 80 persen, dan hanya 20 persen dari Malaysia.
"Pakistan adalah pasar yang strategis bagi Indonesia," kata ujarnya.
Dari total nilai ekspor sawit Indonesia yang mencapai 22,9 miliar dolar AS pada 2017, Pakistan menyumbang sekitar 2 miliar dolar AS atau hampir 10 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)








