JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bagi sebagian emiten perkebunan sawit, program biodiesel dengan campuran 20% (B20) mampu mendongkrak penyerapan sehingga mampu mengurangi stok yang menumpuk akibat pulihnya produksi.

Peraturan pemerintah yang mewajibkan penggunaan campuran biodiesel sebanyak 20% yang berlaku pada 1 September 2018, tentunya memberi pengaruh positif bagi banyak emiten perkebunan, salah satunya PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).

"Kebijakan B20 atau bahkan jika dinaikkan menjadi B30, jika terealisasi tentu akan sangat membantu kami. Oversupply di pasar akan berkurang dan dengan sendirinya akan menaikkan harga CPO di pasar," kata Presiden Direktur SGRO, Marc Louette, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (14/9/2019).

SGRO membukukan penurunan penjualan 17% menjadi Rp1,33 triliun pada periode Juni 2018 dari Rp1,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bruto juga turun 31% menjadi Rp321 miliar pada semester I tahun ini. Dengan demikian, margin laba bruto turun menjadi 24% dari 28,7% pada periode yang sama tahun lalu.

--page

Sementara itu, laba bersih SGRO turun 40% menjadi Rp88 miliar pada periode Juni 2018 dari Rp148 miliar pada periode Juni tahun lalu.

Sedangkan volume produksi minyak sawit SGRO pada periode enam bulan pertama tahun ini naik 14% menjadi 155.000 ton dari 137.000 ton pada periode enam bulan pertama tahun lalu.

Namun, volume penjualan minyak sawit SGRO turun 5% menjadi 135.000 ton pada periode Juni tahun ini.

Sementara itu, volume produksi inti sawit juga naik 20% menjadi 36.000 ton pada periode enam bulan pertama tahun ini dari 30.000 ton pada periode yang sama di tahun lalu. Volume penjualan inti sawit naik 10% menjadi 33.000 ton pada periode Juni tahun ini. (NEDELYA RAMADHANI/m)