BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) yang digelar di SwissBell Hotel, Pangkalan Bun, Minggu (16/9/2018), dirangkai dengan seminar mengenai teknologi terkini penanganan parkinson, epilepsi, dan IVF (bayi tabung).
Seminar yang digagas oleh Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo itu diisi oleh tiga pemateri, meliputi dr Arie Sutanto Sp.OG (K) yang menyampaikan teknologi terkini mengenai bayi tabung, Prof dr Zainal Muttaqin, Sp. BS.Phd yang menyampaikan tentang penanganan terkini penyakit epilepsi, dan dr M Thohar Arifin A, PhD.PAK.Sp.BS yang membahas soal parkinson.
Kepada Borneonews, Arie Sutanto menjelaskan bahwa saat ini dengan teknologi yang ada, upaya mencapai kehamilan bagi pasangan yang mengalami infertilitas atau kesulitan mendapatkan anak bisa dilakukan.
"Pada pasangan yang mengalami masalah infertilitas, kemungkinan hamil bila dilakukan dengan upaya bayi tabung. Bisa lebih besar dari cara lain. Persentasenya sekitar 30%," ungkap Arie Sutanto.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan saat ingin mengikuti program bayi tabung ialah faktor umur.
--page
"Khususnya pada pasien infertilitas perempuan, sebaiknya berusia di bawah 35 tahun. Namun saat ini banyak pasien yang usianya di atas itu. Penyebabnya bisa ketidaktahuan mengenai upaya apa yang harus dilakukan bila tidak punya anak. Idealnya satu tahun menikah, tinggal bersama, tapi belum ada keturunan maka lebih baik periksakan diri ke dokter," imbau Arie.
Kemudian, Zainal Muttaqin yang merupakan ahi bedah syaraf, menjelaskan tentang perkembangan baru penanganan pasien epilepsi.
"Dari 250 juta rakyat Indonesia diperkirakan saat ini jumlah pasien epilepsi sekitar 2 juta orang. Dari 2 juta pasien epilepsi tersebut ada sepertiganya yaitu sekitar 700 ribu yang sulit diobati. Artinya walaupun mengonsumsi obat, sulit disembuhkan. Kemudian sekitar 350 ribu pasien epilepsi hanya bisa ditolong melalui upaya pembedahan," tuturnya.
Dengan teknologi kedokteran yang baru, lanjut Zainal, di Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah, pihaknya mengembangkan upaya penanganan epilepsi tersebut.
Di tempat yang sama, Bussines Development Supervisor RS Telogorejo Semarang Ita Zonia Wisudasari menjelaskan program yang bisa dimanfaatkan masyarakat bila mengalami masalah infertilitas, penyakit parkinson, dan epilepsi.
--page
"SMC RS Telogorejo meningkatkan standard pelayanannya dalam mengikuti kemajuan teknologi terkini di era milenial. Pasien SMC RS Telogorejo dapat menikmati layanan kesehatan terbaik dalam bidang neuro atau syaraf dan infertilitas, didampingi tenaga ahli dibidangnya," jelas Ita.
Jadi, lanjut dia, bila ada masyarakat yang keluarganya menderita epilepsi sebaiknya segera mendatangi RS terdekat untuk berobat.
"Nantinya bila tidak mampu ditangani oleh RS setempat, lantaran keterbatasan sarana prasarana, biasanya pasien akan di rujuk ke RS berikutnya. RS Telogorejo Semarang juga banyak menangani pasien rujukan RSUD Sultan Imanuddin asal Kabupaten Kobar. Lantaran pasien rujukan, maka biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS Kesehatan," sebut Ita.
Selain itu, pihaknya juga banyak menerima pasien infertilitas asal Kabupaten Kobar yang ingin mendapatkan keturunan dengan proses bayi tabung.
"Bisa dibandingkan fasilitas layanan kita dengan harga atau biaya yang harus dibayarkan oleh RS lain. RS Telogorejo mempunyai paket IVF atau bayi tabung sebesar Rp39,5 juta. Paket tersebut termasuk dari proses
awal yaitu ovum pickup (pengambilan ovum), embrio transfer (memasukkan embrio ke rahim), dan terapi lainnya."
--page
Bila terapi pertama gagal, akan diupayakan hingga berhasil. "Namun bila memang terjadi kegagalan kehamilan lantaran kondisi pasien yang tidak memungkinkan, pasien hanya membayarkan biaya terapi sesuai yang didapatkan saja. Namun untuk lebih jelasnya silakan datang dan berkonsultsi pada kami di RS Telogorejo," ujar Ita. (KRIDA/B-3)








