PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Untuk mengamankan data agar sampai dengan baik dan benar, perlu diamankan. Soal data ini, peran media sangat penting untuk menghadang hoax atau berita bohong yang kian marak.

Demikian disampaikan Razali Ritonga, mantan Kepala Pusdiklat BPS Pusat. Pasalnya, saat ini dengan mudahnya data BPS yang dihasilkan dengan metode dan kaidah statistik itu, ‘digoreng’ dengan ujaran kebencian dan hoax di Indonesia.

“Peran media dan jurnalisnya sangat urgen dan strategis karena saat ini dengan mudahnya data berseliweran di media sosial, media online, dan sebagainya. Ini perlu data klir, agar tepat sampai pada dikonsumsi publik,” terang dia, saat workshop wartawan bersama BPS Kalteng, Selasa (18/9/2018).

Data sangat diperlukan untuk memperjelas fakta-fakta yang terhimpun. Agar disebarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat luas dengan benar, alumnus Georgetown University AS tersebut memerlukan pendampingan atau pengawalan.

Di sini lah peran media. APalagi, wartawan yang diikat dengan kode jurnalistik tidak akan mungkin menyajikan data dalam pemberitaannya, tanpa kroscek atau verifikasi dengan memadai.

--page

“BPS penyedia produk data, publik sebagai konsumen data, dan media sebagai penyebarluasan data atau info. Agar produk data yang diolah bisa dibaca dan digunakan dengan baik,” ucap Razali yang kini terjun menjadi pemerhati masalah sosial dan kependudukan tersebut. (ROZIQIN/B-11)