BORNEONEWS, Palangka Raya - Forum Minyak Sawit Berkelanjutan atau Forum Nachhaltiges Palmol (FONAP) akan melakukan kunjungan ke Pulau Salat, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, untuk melihat dari dekat proses pra pelepasliaran orangutan, Senin (24/9/2018).
Dalam kunjungan tersebut, tim yang beranggotakan tiga orang ini akan didampingi oleh CEO PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) Vallauthan Subraminam dan Deputy CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Anton Nurcahyo.
Rombongan akan menyaksikan pemberian makan orangutan di Pulau Badak Kecil yang berada dalam kawasan Pulau Salat. Setelah itu, tim dari FONAP akan melihat seluruh infrastruktur penunjang konservasi orangutan yang berada di Pulau Badak Besar.
Di Gedung Pusat Infomasi yang berada di Pulau Badak Besar, Tim dari FONAP akan menyaksikan video prestentasi tentang kerjasama SSMS-BOSF dalam pengelolaan Pulau Salat sebagai tempat pra pelespasliaran orangutan. Kerjsama SSMS-BOSF ini mendapat dukungan penuh Pemda Kalimantan Tengah.
Setelah dari Pulau Salat, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Nyaru Menteng untuk melihat proses perawatan dan rehabilitasi bagi orangutan yang terusir dari habitatnya atau kehilangan induknya karena berbagai sebab.
--page
CEO SSMS Vallauthan Subraminam menyambut baik kunjungan lembaga dari Jerman ini. “Kita akan menunjukkan kepada dunia apa yang sedang SSMS lakukan terhadap species langka. Ini adalah satu cara bagaimana pelaku bisnis bisa melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat dalam proses konservasi hingga proyek ini sukses,” kata Vallauthan.
Ia menambahkan, SSMS sebagai produsen sawit bisa menjadi solusi untuk masalah yang sedang terjadi di industri sawit. ”Kita bisa menjaga berbagai spesies tertentu, agar kita bisa hidup bersama tanpa mengganggu keberadaan spesies langka sekalipun,” katanya.
Sebagai informasi, FONAP adalah aliansi perusahaan, organisasi non-pemerintah, asosiasi dan Kementerian Pertanian dan Makanan Federal Jerman (BMEL). Lembaga ini berdiri pada September 2013, berasal dari inisiatif perusahaan Henkel, Rewe dan Unilever dan organisasi non-pemerintah World Wide Fund (WWF). (m)








