SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kematian ikan secara massal di Sungai Buluh Tibung dan Sungai Seranau, Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotim bukan karena pencemaran limbah, diduga akibat faktor lain. 

Hasil uji laboraturium yang dilakukan PT Unilab Perdana, kematian itu bukan akibat pencemaran limbah. "Hasil ini bisa dipertanggungjawabkan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kotim, Sanggul Lumban Gaol, Senin (24/9/2018).

Menurut Sanggul, kematian ikan bisa jadi akibat faktor lain yang harus ada analisis lanjutan. Karena dari informasi yang didapat, di aliran sungai itu ada kegiatan penambangan liar. "Saya tanya dengan kades ada penambangan liar. Mereka tidak menggunakan air raksa tapi Kalium Sianida," tegasnya.

Apalagi menurut dia, ada peningkatan paremeter baik itu yang berkaitan dengan PH, TSS, COD, BOD, ML, Fosfat, Fecal Coli serta Kalium.

Maka dari itu, lanjut dia, pihaknya menyarankan agar dibentuk tim lagi untuk mengetahui penyebab dari kematian ikan tersebut.

Saran itu didukung oleh Kabag Ekonomi dan SDA Setda Kotim Wim RK Benung. Tim harus dibentuk agar mampu menjawab penyebab kematian ikan.

"Apalagi ada peningkatan Fecal Coli dan Kalium, serta adanya informasi penambangan menggunakan Kalium Sianida. Nanti hal ini akan saya laporkan ke pimpinan," tandasnya. (NACO/B-2)