JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Prospek kinerja emiten perkebunan pada tahun ini diperkirakan terbatas oleh melesunya harga minyak kelapa sawit atau CPO global akibat faktor fundamental suplai dan permintaan.

"Kami mempertahankan rekomendasi netral terhadap emiten sektor perkebunan," kata analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andy Wibowo Gunawan, dalam risetnya awal pekan ini.

Sedangkan estimasi harga CPO pada 2018 hingga 2019 diturunkan masing-masing menjadi 2.700 hingga 2.800 ringgit per ton, dari proyeksi sebelumnya senilai 2.900 hingga 3.000 ringgit per ton.

"Faktor utama yang mempengaruhi harga ialah dinamika suplai dan permintaan," papar Andy.

Menurut Andy, pada semester II tahun ini, produksi CPO Malaysia akan meningkat dibandingkan 6 bulan pertama tahun ini. Hal yang sama diperkirakan terjadi di Indonesia, karena kondisi cuaca dan tanah yang mirip.

--page

"Kenaikan harga minyak mentah juga tidak serta-merta mendukung peningkatan harga CPO," ujarnya. 

Mirae sudah mengerek proyeksi rerata harga minyak Brent pada 2018 menjadi US$80 hingga US$85 per barel, dari estimasi sebelumnya US$70 sampai US$75 per ton.

"Memanasnya harga minyak diyakini belum akan mendorong permintaan biodiesel yang lebih tinggi," tutur Andy.

Andy menilai, para produsen biodiesel belum yakin kenaikan harga minyak mentah akan berlanjut. Oleh karena itu, mereka cenderung menahan produksi, sehingga belum mengerek permintaan bahan baku CPO.

"Di samping itu, emiten sawit kesulitan ekspansi untuk mendapatkan lahan baru. Pasalnya, pemerintahan Joko Widodo hanya membolehkan aktivitas replanting seluar 185.000 hektare," katanya.

--page

Andy menyampaikan, ada empat emiten kebun yang masuk ke dalam riset Mirae, yakni PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT PP London Sumatra Tbk. (LSIP), PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS).

Dua top picks pilihan Mirae yang mendapat rekomendasi beli ialah SGRO dan SSMS, dengan target masing-masing Rp2.950 dan Rp1.800. 

Dari sisi fundamental, pada 2018 laba bersih SGRO dan SSMS diprediksi tumbuh 25,5% yoy dan 10,6% yoy. Namun, laba AALI diperkirakan tergerus 40,2% yoy, sedangkan LSIP juga menurun 27% yoy.

"Dua saham pilihan kami, SGRO dan SSMS memiliki land bank yang besar sehingga mendukung pertumbuhan dalam jangka panjang," kata Andy. (NEDELYA RAMADHANI/m)