SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Sekretaris Komisi II DPRD  Kotawaringin Timur, Alexius Esliter menilai kinerja Dinas Lingkungam Hidup (DLH) Kabupaten Kotim masih setengah hati dalam mengungkap dugaan pencemaran aliran sungai Seranau dan Buluh Tibung. 

Seharusnya uji laboratorium di lakukan secara menyeluruh dan tidak hanya terpaku pada air sungai saja. Maka dari itu ia mendesak dinas DLH untuk mengungkap penyebab kematian ribuan ikan di aliran sungai Seranau dan Buluh Tibung.

Karena masyrakakat tidak puas dengan uji laboraturium yang disampaikan saat ini. Mereka mendesak agar penyebab kematian itu sesungguhnya berasal dari mana dan siapa oknum pelakunya.

"Jika tidak akibat pencemaran limbah perusahaan terus akibat apa ribuan ikan itu mati. Hal ini yang masih di tunggu masyarakat," katanya, Selasa (25/9/2018).

Karena sejak awal menurut dia pihaknya sudah meminta kepada DLH yang untuk diuji laboratorium jangan hanya air saja, namun ikan yang mati juga harus di uji laboratorium, namun hal itu tidak dilakukan.

--page

"Meski akan dibentuk tim lagi pengungkapan penyebab kematian ribuan ikan akan semakin sulit, selain kejadiannya sudah lama juga kondisi aliran sungai Seranau dan Buluh Tibung sudah berangsur membaik karena sering di guyur hujan lebat," pungkasnya.

Meski demikian Alexius tetap meminta kepada  perusahaan  yang diduga melakukan pencemaran aliran sungai untuk bertanggungjawab dengan memberi ganti rugi matinya ikan warga yang dipelihara dalam keramba serta menyalurkan air bersih.(NACO/m)