PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Akhirnya Jumiati yang tinggal sebatang kara di sebuah gubuk reot di RT 13, Kelurahan Kumai Hulu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), bisa menetap di rumah yang layak, meski masih semi permanen dan berkonstruksi kayu.

Dengan gotong royong, para relawan, anggota TNI, Polri, pemerintah Kecamatan Kumai, dan Pemkab Kobar, merehab gubuk milik nenek berusia 53 tahun itu. 

Gubuk reot Jumiati dibedah setelah sebelumnya disambangi Bupati Kobar Nurhidayah bersama suami M Ruslan AS, dan para pejabat lainnya. Jumat (28/9/2018), rumah Jumiati sudah terlihat layak dihuni.

"Kegiatan rutin kami setiap hari Jumat, selain melakukan gotong royong Jumat Bersih, hari ini kita juga melihat proses akhir penyelesaian bedah rumah milik nenek Jumiati," tutur Bupati perempuan pertama di Kabupaten  Kobar.

Menurut Bupati, kondisi Jumiati yang tinggal disebuah gubuk reot tersebut dketahuinya saat dirinya bersama para pejabat lainnya melaksanakan kegiatan Jumat Bersih di Kecamatan Kumai.

--page

"Saat kunjungan beberapa waktu lalu, nampak jelas rumah Ibu Jumiati tidak layak huni. Ditambah lagi dengan dirinya yang hidup sebatang kara dalam masa tuanya.  Kemudian Beliau juga tidak bisa beraktivitas normal lagi, bahkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja ia dibantu para tetangga yang merasa prihatin atas kehidupannya," jelas Bupati.

Untuk sedikit meringankan beban hidup nenek Jumiati, lanjut Bupati, pihaknya berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kelurahan, RT, TNI, dan Polri.

"Karena kemarin kita sempat menemui kendala lantara  status kepemilikan tanah yang ditempati oleh Jumiati adalah milik Polri. Setelah hal tersebut kita koordinasikan dengan Kapolres Kobar AKBP Arie Sandy Zulkarnain Sirait, ternyata Kapolres antusias membantu nenek tersebut dengan memberi izin peminjaman tanah untuk didirikan rumah semi permanen bagi Jumiati," jelas Bupati.

Menurut Bupati dalam proses pembangunan rumah semi permanen layak huni tersebut, dilakukan secara gotong royong semua pihak yang berempati atas kesulitan hidup nenek tua itu.

Ditempat yang sama Direktur PDAM Tirta Arut Pangkalan Bun Sapriansyah mengatakan, untuk kebutuhan air nenek Jumiati, pihaknya turut memberikan bantuan berupa pemasang sambungan air gratis.

--page

"Selain itu dalam segi pembayaran per bulan, kita lihat saja nanti. Bila Beliau juga tidak mampu membayarkan tagihan air, biaya pemakaian air akan kami tanggung. Hal ini melihat dari kondisi fisik Beliau yang sudah tidak mampu lagi untuk bekerja mencari nafkah," sebut Sapriansyah. (KRIDA/B-3)