BORNEONEWS, Palangka Raya - Dua orangutan dewasa, Sisil dan Clara, kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) usai menuntaskan tahap pra-pelepasan rehabilitasi di Pulau Salat.
“Kelulusan dua orangutan ini merupakan sebuah pencapaian dari program konservasi Pulau Salat dan misi jangka panjang kami untuk mengembalikan orangutan ke alam liar,” kata CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Jamartin Sihite.
“Pencapaian ini adalah bukti bahwa ketika para pemangku kepentingan berjuang bersama-sama, kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa, termasuk melestarikan spesies yang terancam punah.”
Pulau Salat merupakan area rehabilitasi orangutan untuk tahap pra-pelepasan yang dikelola secara bersama-sama oleh PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dan BOSF. Program ini dirancang untuk mengurai kepadatan orangutan di fasilitas rehabilitasi BOSF dengan cara mempercepat proses rehabilitasi mereka.
Kedua lulusan Pulau Salat yang dilepaskan di TNBBBR pada 28 September 2018 kemarin adalah Sisil, seekor orangutan betina berusia 13 tahun, dan Clara, seekor orangutan betina berusia 12 tahun.
--page
Ketika Clara masih menjalani tahap pra-pelepasan di Pulau Salat, Clara melahirkan Clarita, yang kini berusia satu tahun dan keduanya telah dilepaskan bersama-sama di TNBBBR. Mereka dilepaskan setelah melalui lebih dari 10 jam perjalanan melalui jalur darat dan air, ditemani oleh teknisi BOSF dan petugas SSMS.
“Rehabilitasi orangutan tetap menjadi prioritas utama SSMS karena orangutan di Kalimantan termasuk spesies yang terancam punah. Dari seluruh spesies orangutan, hanya terdapat sekitar 78,500 individu yang tersisa di alam liar,” ungkap SSMS CEO Vallauthan Subraminam.
“SSMS bekerja sama dengan komunitas lokal, pemerintah, dan BOSF untuk membantu mengatasi faktor-faktor yang memaksa orangutan berpindah dari habitat aslinya, termasuk memperkuat standar keberlanjutan di seluruh operasi kami hingga mengajak komunitas lokal dalam program konservasi di sekitar area konsesi,” tambah Vallauthan.
Sebelum pelepasan Sisil dan Clara, SSMS dan BOSF menerima perwakilan FONAP, sebuah forum kelapa sawit berkelanjutan asal Jerman, dalam sebuah kunjungan ke Pulau Salat. Pada kunjungan tersebut, delegasi FONAP menyanjung kerja sama yang berhasil mewujudkan Pulau Salat. Mereka menekankan kemitraan antar pemangku kepentingan sebagai elemen kunci yang patut dicontoh oleh pelaku industri lain.
“Sungguh menakjubkan untuk dapat menyaksikan para pemangku kepentingan bekerja bersama-sama untuk mencapai satu tujuan: mengembalikan orangutan ke alam liar,” ungkap Sascha Tischer, consultant stakeholder relations Germany dari Sustainable Agriculture Network, salah satu anggota FONAP.
--page
“Saya sangat terkesan dengan bagaimana SSMS dan BOSF melibatkan masyarakat sekitar untuk mendukung program Pulau Salat. Keterbukaan ini akan memastikan keberlanjutan program Pulau Salat dalam menciptakan manfaat yang lebih banyak lagi di tahun-tahun yang akan datang,” kata Sascha.
Negara-negara Eropa, tempat asal FONAP, merupakan importir terbesar kedua dari minyak kelapa sawit Indonesia dengan nilai transaksi hingga Rp41 triliun pada 2017.
FONAP memiliki 50 anggota yang terdiri dari perusahaan, lembaga swadaya masyarakat, dan asosiasi, termasuk nama-nama besar seperti Ferrero, Unilever, dan Beiersdorf. (m)








