JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dilatarbelakangi penambahan kuota impor gula serta potensi peningkatan penjualan biodiesel seiring dengan perluasan kebijakan B20, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) berpeluang membukukan kinerja yang lebih baik di 2019.

“Implementasi B20 kami yakini memberi hasil positif untuk TBLA,” kata analis Samuel Sekuritas, Sharlita Malik, dalam risetnya pekan ini.

Seiring dengan penetapan alokasi B20 untuk sektor non-PSO, TBLA berpeluang memperoleh tambahan produksi biodiesel sebesar 32.314 kl. Sedangkan untuk sektor PSO, TBLA mendapatkan alokasi produksi sebesar 64.206 kl. 

“Sehingga kami estimasikan kontribusi biodiesel pada tahun ini menguat menjadi 12% (dari sebelumnya 9%) dengan volume penjualan mencapai 155.000 kl (+60% yoy) di 2018 dan 178.250 kl +15% yoy) di 2019,” prediksinya.

--page

Hingga akhir 2018, manajemen menargetkan peningkatan proporsi divisi gula menjadi 37% (1H18: 28%, 2017: 34%), menyusul tambahan kuota impor sebesar 50.000 ton (total kuota impor untuk tahun inj menjadi sebesar 200.000 ton). 

“Dengan tambahan kuota impor tersebut, kami estimasikan volume penjualan gula olahan (Rose Brand) mengalami pertumbuhan 13% yoy menjadi 350 ribu di 2018 dan menguat 10% yoy menjadi 385 ribu di 2019,” ujar dia.

Pada kuartal IV 2018, TBLA berencana mengoperasikan pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 220.000 ton per tahun, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan 2019. 

“Dengan asumsi harga CPO sebesar MYR 2.700/ton di 2019, meningkatnya penjualan biodiesel serta biaya produksi yang lebih rendah kami proyeksikan laba bersih TBLA di 2019 tumbuh 23% yoy ke Rp1,2 triliun,” sambungnya.

Dengan rencana pencapaian tersebut, ia merekomendasikan beli saham TBLA dengan target harga Rp1.500 dan PE sekitar 6,8 kali.

--page

“Kami menginisiasi TBLA dengan metode DCF dan rekomendasi beli dengan target harga di Rp1.500 (+36% potensi upside) dan merefleksikan P/E 19E 6,8 kali, di bawah rata – rata industri (P/E industri saat ini 18,3 kali). Risiko dari investasi adalah kuota impor gula yang lebih rendah dan terhambatnya kebijakan B20,” paparnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)