SEMARANG –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Penyakit diabetes mellitus ditetapkan PBB sebagai penyakit  tidak menular, tetapi berlangsung lama dan sulit untuk diturunkan angkanya.

Berdasarkan laporan statistik dari International Diabetes  Federation  (IDF)  (Nathan dan Delahanty, 2009) disebutkan bahwa terdapat 230 juta penderita diabetes mellitus dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi 370 juta pada tahun 2030.(1)

Penyakit ini di Indonesia disebut juga kencing manis atau penyakit gula. Disebut demikian karena penyakit ini merupakan kelompok gangguan metabolik kompleks termasuk hiperglikemia dan gangguan aksi insulin dan/atau sekresi insulin (Lin dan  Sun,  2010),  sehingga menyebabkan kadar gula darah dalam tubuhnya melebihi batas. (1)

WHO (2003) menyatakan dari beberapa macam tipe diabetes, kasus diabetes mellitus tipe 2 menempati 90% dari keseluruhan kasus. Dan 90%-99% disebabkan gaya hidup yang tidak sehat, termasuk di dalamnya dalam aktivitas fisik dan juga konsumsi  makanan.(1)

Oleh  karena  itu, perubahan gaya hidup menjadi salah satu kunci dalam penanganan diabetes mellitus tipe 2.(2)

--page

Ada 4 pilar penatalaksanaan penyakit  diabetes  mellitus  (Kariadi, 2009). Salah satunya adalah kepatuhan menjalani program diet yang menurut Darusman  (2009) diet merupakan terapi paling utama dalam penatalaksanaan diabetes mellitus.

Pengaturan diet diabetes mellitus berdasarkan  3J, yaitu,  jumlah,  jenis, dan jadwal (Kariadi, 2009).(3)

Jumlah makanan diatur berdasarkan tinggi dan berat badan, jenis aktivitas, dan umur penderita diabetes. Jenis makanan mencakup karbohidrat (termasuk penghitungan gula murni dan gula komplek), lemak, buah, dan sayuran. Sedangkan jadwal makan meliputi waktu  makan tetap dan makan selingan (Krisnatuti  dan Yenrina, 2008).(2)

Kepatuhan dalam menjalankan diet bagi penderita diabetes mellitus tipe 2 menjadi permasalahan tersendiri ketika peraturannya harus diikuti oleh penderita secara kontinyu dan dalam kurun waktu yang lama.(4)

Kepatuhan jangka panjang terhadap perencanaan makan merupakan   tantangan yang besar bagi penderita diabetes mellitus Cox dan Anderson (Ciechanowski dkk, 2001).(5)

--page

Model adaptasi Roy, memberikan suatu kerangka berfikir bahwa tujuan keperawatan adalah membantu pasien untuk beradaptasi dengan penyakit.(6) Dalam kehidupan sehari-hari, pasien DM dihadapkan dengan perkembangan penyakitnya dan harus beradaptasi dengan perubahan tersebut dengan melakukan pengontrolan glukosa darah, pengobatan baik oral atau insulin, meningkatkan pengetahuan mereka tentang perawatan DM, serta mengubah gaya hidup dalam diet, olahraga dan pengaturan stress.(7)

Beberapa penelitian telah menggunakan model adaptasi Roy sebagai landasan utama dalam penelitian mereka. Penelitian Lazcano-ortiz & Salazar Gonzalez (2009) sebagai contoh, menunjukkan bahwa lamanya seseorang memiliki DM akan mempengaruhi adaptasi fisiologis namun tidak mempengaruhi adaptasi psikososial. Komplikasi DM akan memengaruhi adaptasi psikososial, serta stimulus pekerjaan dan perkawinan mempengaruhi adaptasi fisiologis.(5)

Pengembangan kerangka model adaptasi model Roy digunakan untuk melatih dan mendampingi dalam memberikan bimbingan dan motivasi kepada pasien DM untuk aktif dalam melakukan perubahan gaya hidup atau beradaptasi secara optimal (Whittemore, 2000).(7)

Dalam pengembangan Model Adaptasi Konsep Keperawatan Calista Roy perawat dapat menerapkan kepemimpinan transformasional yaitu dengan memerankan dirinya sebagai leader atau pemimpin yang bisa mengarahkan pasien untuk bisa patuh terhadap diit yang telah ditentukan dengan melibatkan dukungan keluarga.

Kepemimpinan oleh Kenneth H Blanchard (Wahjosumidjo, 1985) adalah proses dalam mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Tanpa kepemimpinan organisasi hanya merupakan kelompok manusia yang kacau tidak teratur dan tidak akan melahirkan perilaku bertujuan (Keith Davis dalam Sudarwan, 2004).(8)

--page

Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin.

Bass, mengindikasikan ada tiga ciri kepemimpinan transformasional yaitu karismatik, stimulasi intelektual, dan perhatian secara individual. Dari ketiga ciri di atas penulis menganggap bahwa stimulasi intelektual tepat diterapkan dalam meningkatan kepatuhan diit pasien DM type 2, karena perawat melalui stimulasi intelektual mampu merangsang kreativitas pasien dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap masalah-masalah lama.

Jadi, melalui stimulasi intelektual, pasien didorong untuk berpikir mengenai relevansi cara, sistem nilai, kepercayaan, harapan, dan didorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri serta didorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang dihadapinya.(9)

Serta dengan melibatkan dukungan keluarga, hal ini sesuai dengan penelitian dari Eko Haryono (2009) yang menyatakan bahwa dukungan keluarga memiliki hubungan terhadap kepatuhan diit pasien DM.(5)

Pratiwi (2009) menyatakan bahwa dukungan keluarga sangat diperlukan untuk keberhasilan terapi agar dapat mempertahankan status kesehatan keluarga. Dukungan keluarga yang berupa perhatian, emosi, informasi, nasihat, motivasi maupun pemahaman yang diberikan oleh sekelompok anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain sangatlah dibutuhkan.

--page

Dukungan keluarga juga menjadi faktor yang penting yang mempengaruhi kepatuhan, diharapkan anggota keluarga mampu untuk meningkatkan dukungannya sehingga ketidaktaatan terhadap program diit yang akan dilaksanakan lebih dapat dikurangi.

Riset telah menunjukkan bahwa jika kerja sama anggota keluarga sudah terjalin, ketaatan terhadap program-program medis yang salah satunya adalah program diet menjadi lebih tinggi (Pratiwi, 2009).(7)

Jadi kesimpulan dari artikel di atas adalah bahwa penerapan kepemimpinan transformasional melalui stimulasi intelektual sangat efektif terhadap pengembangan model konsep adaptasi Calista Roy dalam hal peningkatan kepatuhan diit pasien diabetes mellitus type 2.

Melalui stimulasi intelektual, pasien didorong untuk berpikir mengenai relevansi cara, sistem nilai, kepercayaan, harapan, dan didorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri serta didorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang dihadapinya.

Penulis: Wahyono, Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

--page

DAFTAR PUSTAKA

1.     Kemenkes RI. Situasi dan Analisis Diabetes. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2014. p. 2. 

2.     Mark N. Feinglos, md C, M. Angelyn Bethel M. Type 2 Diabetes Mellitus An Evidence-Based Approach to Practical Management. Duke University Medical Center, Durham, NC, USA; 2008. 469 p. 

3.     Frost G. Nutritional Management of Diabetes Mellitus Edited by. 

4.     Faiz DMK. Patient Compliance. 2006. 239 p. 

5.     Risnasari N. Hubungan tingkat kepatuhan diet pasien diabetes mellitus dengan munculnya komplikasi di puskesmas pesantren iikota kediri. Efektor. 2014;01(25):15–9. 

6.     Paech M. Nursing Theorists and Their Work (6th edn) [Internet]. Vol. 24, Contemporary Nurse. 2007. 106-106 p. Available from: http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.5172/conu.2007.24.1.106a

7.     Indonesia U, Adinugraha TS, Keperawatan FI, Pendidikan P, Keperawatan S, Keperawatan K, et al. Analisis Penerapan Model Adaptasi Roy Dalam Asuhan Keperawatan Pasien Diabetes Melitus , Evidence Based Nursing Practice Dan Inovasi Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Asuhan Keperawatan Pasien Diabetes Melitus ,. 2014;900. 

8.     Marshall ES. Transformational Leadership in Nursing. 

9.     Wibawa, Ari D. Kepemimpinan Transaksional dan Kepemimpinan Transformasional. 2003;1–15.