PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul Rein Krisman Siregar menegaskan polisi akan membuka kembali penyelidikan terhadap kasus dugaan pemerkosaan dengan korban anak berusia 15 tahun.

Hal itu dilakukan karena hasil tes DNA ulang terhadap anak korban dan terduga pelaku berinisial RA, tidak identik. Polres Palangka Raya pun berencana mengambil DNA orangtua korban. 

"Nanti kita akan mencoba mengambil DNA dari orangtuanya. Karena korban, ibu dari anak merupakan anak tiri yang melaporkan kita meminta bantuan pengacara Hotman Paris," kata AKBP Timbul, Selasa (2/10/2018). 

Dalam waktu dekat pihaknya akan melayangkan pemanggilan terhadap korban dan orangtuanya untuk diperiksa lebih lanjut. 

"Secepatnya akan kita lakukan pemanggilan. Kita juga akan berkomunikasi dengan terduga terlapor, kaitan dengan hasil ini. Karena sempat dipublikasikan bahwa yang bersangkutan seolah seperti pelaku," ungkapnya.

--page

"Bapak tirinya akan kita panggil dan kita akan meminta supaya bapak tirinya dilakukan tes DNA," tutur Kapolres. 

Sebelumnya kapolres membeberkan hasil tes DNA ulang atas kasus dugaan pemerkosaan yang terjadi di Rakumpit, beberapa bulan lalu. 

Tes tersebut dilakukan menindaklanjuti permintaan pengacara kondang, Hotman Paris yang mendampingi korban dugaan pemerkosaan terhadap anak ini. 

"Hasil uji DNA kedua dari kasus dugaan terjadinya pemerkosaan dengan korban, dan terduga pelaku RA, ternyata tidak identik dengan DNA si anak," ucapnya.

Kapolres menjelaskan dalam kasus dugaan pemerkosaan itu, pihaknya awalnya menerima laporan dugaan pemerkosaan dengan terduga pelaku RA.

--page

Pihaknya kemudian melakukan tes DNA untuk memastikan apakah benar RA sebagai pelakunya. Ini karena si anak telah lahir dan DNA sudah bisa diambil. Namun, hasilnya tidak identik. 

"Ternyata, orang tua korban keberatan dengan hasil tes DNA pertama. Kemudian yang bersangkutan meminta bantuan hukum kepada pengacara Hotman Paris. Dari rilis Hotman Paris, mereka meminta untuk melaksanakan tes DNA ulang (kedua) dengan membawa terduga pelaku ke Jakarta. Langsung diambil di lab. Hasilnya sama, tidak identik," sebutnya. (BUDI YULIANTO/B-3)