JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pasar ekspor produk minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya diyakini masih belum meningkat signifikan dan cenderung di tengah upaya pemerintah untuk memacu serapan stok domestik melalui program biodiesel B20.

"Kinerja ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya diperkirakan belum membaik setidaknya hingga Oktober," kata analis produksi kelapa sawit Cofco International, Roby Fauzan, dalam keterangan tertulisnya medio pekan ini.

Tiga negara utama pengimpor CPO asal Indonesia, yakni India, China dan Uni Eropa, belum menunjukkan tanda-tanda membuka pasarnya lebih lebar terhadap komoditas tersebut.

"Kendati China mulai berminat menyerap minyak kelapa sawit dari Indonesia, permintaan dari negara tersebut masih terbatas. Di sisi lain, Indonesia belum dapat membuka negara pasar baru untuk menyerap produksi minyak kelapa sawitnya," papar Roby.

Kondisi Indonesia, lanjut Roby, berbanding terbalik dengan Malaysia. 

--page

"Data kami menyebutkan, ekspor CPO mereka pada September meningkat 52% dari Agustus. Sementara itu, ekspor Indonesia saya lihat September masih akan cenderung tumbuh tetapi moderat," ujarnya.

Roby menilai, kenaikan ekspor Malaysia tersebut, disebabkan oleh pengapalan CPO ke negara importir non-tradisional mereka, yakni Iran dan sejumlah negara di Afrika. Di sisi lain, Malaysia saat ini telah membebaskan pungutan ekspor CPO demi memberikan insentif yang lebih menarik bagi para eksportir.

"Pemerintah Indonesia harus membuka promosi dagang ke negara-negara pengimpor minyak diesel untuk ekspor biodiesel dan menurunkan atau membebaskan pungutan ekspor CPO dan produk turunannya melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) Kelapa Sawit terutama minyak goreng kemasan. Pasalnya, permintaan akan produk bernilai tambah tersebut cukup besar di kawasan Timur Tengah dan Afrika," tutur Roby. (NEDELYA RAMADHANI/m)