BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Moody's Investors Service memperkirakan minyak sawit mentah (CPO) akan mengalami kenaikan permintaan dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya konsumsi. Hal itu dapat mengatasi melemahnya harga komoditas tersebut belakangan ini.
Berdasarkan catatan Moody's, harga CPO telah merosot 14% sejak awal 2018, dan ini merupakan level terendah sejak 2015.
Melemahnya harga yang terus terjadi saat ini akan memberikan tekanan terhadap kinerja pelaku industri sawit, baik di Indonesia maupun Malaysia, sebagai dua penghasil minyak sawit terbesar dunia, kata analis Moody's, Maisam Hasnain, Kamis (4/10/2018).
"Terus melemahnya harga CPO akan berpeluang menurunkan peringkat sejumlah perusahaan perkebunan dalam 12-18 bulan ke depan, tapi meningkatnya permintaan terhadap komoditas ini akan memberikan dukungan pada profil perusahaan itu untuk jangka menengah hingga panjang," ucapnya.
"Kami juga memperkirakan pemerintah Indonesia dan Malaysia akan mempertahankan kebijakan yang mendukung industri sawit di kedua negara, dan ini akan memberikan dukungan terhadap peringkat untuk sektor perkebunan," ujar Hasnain.
--page
Moody's juga mengidentifikasi tiga risiko utama yang berpotensi mengganggu pendapatan dan laba perusahaan sawit dalam periode 12-18 bulan mendatang.
Pertama, dari sisi pasokan, meningkatnya cadangan minyak sawit di Malaysia dan Indonesia dapat terus memberikan tekanan terhadap harga CPO.
Kedua, dari sisi permintaan, penambahan tarif dan beragam restriksi oleh sejumlah negara pengimpor CPO terbesar dunia, seperti India, akan melemahkan permintaan dan memicu penurunan volume penjualan.
Dan ketiga, melemahnya harga minyak kedelai dapat memberikan tekanan terhadap harga jual CPO, karena kedua jenis minyak nabati ini bisa saling menggantikan dan pergerakan harga kedua komoditas ini umumnya selalu beriringan.
“Namun demikian, Moody's mengatakan konsumsi minyak sawit sepertinya akan tumbuh dan tetap kuat di negara-negara seperti Indonesia, India, dan China dalam jangka menengah hingga panjang, dan ini akan memberikan dukungan terhadap kinerja perusahaan di sektor perkebunan,” kata Moody's. (NEDELYA RAMADHANI/m)








