JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Industri minyak sawit nasional dihadang kampanye negatif setelah Eropa mengkaji pemberlakuan Indirect Land Use Change (ILUC) untuk penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit, yang disinyalir akan memangkas ekspor biodiesel dari Indonesia.

"Sentimen itu tidak akan berdampak signifikan pada saham emiten kebun. Porsi ekspor biodiesel masih kecil," kata analis Indo Premier Sekuritas, Mino, dalam risetnya akhir pekan ini.

Dari total produksi biodiesel sebesar 3,41 juta kiloliter, hanya 187.340 kiloliter yang diekspor. 

"Ekspor cuma 7%, lebih banyak untuk konsumsi domestik, kinerja emiten perkebunan saat ini tertekan lebih karena harga minyak sawit (CPO) cenderung turun. Namun, sedikit tertolong karena volume produksi meningkat untuk beberapa emiten," papar Mino.

Mengacu laporan keuangan semester I tahun ini, rata-rata kinerja emiten kebun loyo. Pendapatan London Sumatra Indonesia (LSIP) turun 28,54% dan laba terpangkas 47%.

--page

Pendapatan Astra Agro Lestari (AALI) naik 5,6%. Tapi, penurunan harga CPO memicu laba turun 24,90%. Laba Tunas Baru Lampung (TBLA) juga merosot 30,34%.

Hanya, kinerja Eagle High Plantation (BWPT) yang membaik. Emiten ini meraih laba Rp2 miliar dari sebelumnya merugi Rp128 miliar.

Meski begitu, Mino masih melihat prospek perbaikan emiten kebun. Pertimbangannya, moratorium penanaman baru dalam jangka panjang akan mengurangi risiko oversupply, sehingga bisa berdampak positif ke harga.

Mino memasang target harga akhir tahun AALI sebesar Rp16.000, LSIP Rp1.250, BWPT Rp246 dan TBLA Rp1.080. (NEDELYA RAMADHANI/m)