PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Sahdin Hasan meminta agar kampus menyosialisasikan dengan baik istilah guru yang menjadi lulusan dari perguruan tinggi tersebut.

"Kami minta kampus melakukan sosialisasi dengan baik. Rugi kita kalau sampai tidak dapat guru dari penerimaan CPNS tahun ini hanya karena pelamar tidak lolos seleksi berkas gara-gara perbedaan istilah lulusan antara yang diminta pemda sebagai pengguna lulusan dengan istilah yang diberikan kampus untuk lulusannya," kata Sahdin Hasan, Sabtu (6/10/2018).

Hal ini bisa terjadi, menurut Sahdin, salah satunya yang terjadi di penerimaan Guru Bahasa Indonesia. Yang dimuat dalam permintaan CPNS lingkup Pemerintah Kota Palangka Raya ialah lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia, padahal yang ada itu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tidak ada program studi Pendidikan Bahasa Indonesia.

"Yang ada program studi Bahasa Indonesia, tapi kan tidak bisa jadi guru karena itu dari Jurusan atau Fakultas Bahasa dan Sastra sementara yang PBSI ini di bawah jurusan dan fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Itu berbeda. Memang hanya sedikit bedanya. Tapi perlu diingat bahwa penerimaan kita ini menggunakan sistem online, salah sedikit saja bisa-bisa ditolak lamaran dari pencari kerja ini," jelas Sahdin.

Akibatnya, karena istilahnya beda lalu lulusan PBSI ini tidak bisa melamar, padahal yang dicari itu guru. Karena jurusannya itu beda pada istilah.

--page

Yang paling bagus, tutur Sahdin, perguruan tinggi yang membuat produk itu yang harus mengkomunikasikan dengan Pemerintah Daerah terutama BKD terkait istilah lulusan dan bisa menempati posisi apa saja lulusan-lulusan ini.

"Kampus harus menyosialisasikan bahwa ini lo orientasinya, mereka (lulusan) ini bisa untuk posisi ini dan itu. Kalau seperti ini kan yang rugi ini karena posisi yang sudah diberikan kuotanya oleh Pemerintah Pusat jadi tidak terisi. Kalau pemerintah kan tidak rugi, cuma formasinya menjadi tidak terisi sehingga posisi guru tetap kosong dan kita akan terus kekurangan guru. Padahal kuotanya tersedia," pungkas Sahdin. (TESTI PRISCILLA/B-2)