JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit (CPO) berpotensi bergerak dalam volatilitas tinggi, Rabu (10/10/2018), pasca berakhir naik 0,8% di level RM2.205 di tengah outlook melemahnya harga minyak WTI, menguatnya ringgit serta antisipasi trader menjelang perilisan data suplai dan permintaan CPO dari Malaysian Palm Oil Board untuk periode September. 

"Harga minyak bergerak lebih rendah pada awal perdagangan hari Rabu setelah IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan global mereka untuk tahun 2018 dan 2019, yang berpotensi meredam permintaan untuk minyak mentah," kata Tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya di Jakarta, Rabu. 

Untuk pergerakan mata uang ringgit pukul 10.50 WIB terpantau menguat 0,11% di level 4.1530 per dolar AS. Ringgit yang menguat akan membuat harga CPO menjadi lebih mahal untuk para pemilik mata uang lainnya. 

"Hari ini investor akan menantikan data suplai dan permintaan CPO bulan September dari Malaysia Palm Oil Board (MPOB)," sebut Monex. 

Berdasarkan survei Reuters, cadangan minyak sawit Malaysia kemungkinan turun di bulan September dari level tertinggi tujuh bulan pada Agustus karena pengiriman dari eksportir terbesar kedua di dunia ini melampaui pertumbuhan produksi untuk September.  

--page

Untuk harga CPO kontrak Desember 2018 pada hari ini dibuka di level RM2.193, dengan level tertingginya di RM2.211 dan level terendahnya di RM2.193. Harga CPO saat ini sedang berada di level RM2.209.

"Potensi pelemahan pada hari ini perlu konfirmasi untuk penembusan bawah level RM2.200 (Support 1), RM2.190 (Support 2), dan RM2.175 (Support 3). Dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.220 (Resisten 1), RM2.230 (Resisten 2) dan RM2.245 (Resisten 3)," tutur Monex. (NEDELYA RAMADHANI/m)