BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah harus memberikan stimulus lebih bagi ekspor minyak sawit mentah (CPO), terutama saat nilai tukar rupiah melemah.
"Peningkatan ekspor CPO bisa menjadi langkah ampuh untuk mengendalikan nilai tukar rupiah. Tawaran solusinya adalah mengurangi pungutan ekspor untuk CPO dari US$50 untuk yang mentah dan US$30 untuk olahan menjadi US$20 per ton, minyak sawit adalah penyumbang devisa non migas terbesar," kata pengamat ekonomi Indef, Bhima Yudhistira, di Jakarta medio pekan ini10/10).
Meski andalan ekspor, beberapa waktu terakhir ekspor CPO mengalami gangguan. Sebagai contoh, ada pengenaan bea masuk di India.
"Jika pungutan ekspor direlaksasi, daya dorong sawit diharapkan menekan defisit perdagangan dan kuatkan kurs rupiah. Ketika kondisi sudah stabil, pungutan ekspor CPO bisa dikenai lagi," papar Bhima.
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), volume ekspor minyak sawit dan turunannya pada Agustus 2018 mencapai 3,3 juta ton. Angka itu meningkat dibandingkan dengan Juli 2018 yang tercatat 3,22 juta ton.
--page
Kementerian Pertanian mencatat, pada September 2018, ekspor buah Indonesia meningkat 24% jika dibandingkan pada periode yang sama 2017. (NEDELYA RAMADHANI/m)








