PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Desa Pasir Panjang mulai mengembangkan Kawasan Hutan Desa yang berlokasi di kawasan TransLIK untuk menjadi lokasi konservasi lingkungan dan wisata edukasi.

Langkah itu merupakan terobosan unik yang dilakukan oleh  Desa Pasir Panjang,  Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dalam hal pelestarian lingkungan hidup.

Kepala Desa Pasir Panjang Tamel Otol, di sela pelepasliaran 40 ekor burung endemik Kalimantan hasil sitaan BKSDA Jawa Timur, di Hutan Desa Pasir Panjang, Jumat (12/10/2018) menjelaskan tujuan pengembangan hutan desa ini.

"Dulunya kawasan hutan desa ini merupakan bekas ladang berpindah. Lama- kelamaan kegiatan tersebut mulai ditingggalkan masyarakat, maka lokasi hutan desa seluas 411 hektare ini mulai kita bangun dan kembangkan sebagai lokasi konservasi dan wisata edukasi. Artinya bila dilihat dari segi ekonomi masyarakat dan dari segi konservasi lingkungan, dua-duanya mendapatkan keuntungan," jelas Tamel.

Rencananya, lanjut Tamel, hutan wisata edukasi ini akan dibuka bagi masyarakat umum sekitar tahun 2019.

--page

"Selain membangun ekonomi masyarakat dan pengembangan konservasi lingkungan, hutan wisata edukasi ini juga merupakan salah satu bentuk dukungan kita pada visi misi pemerintahan Kabupaten Kobar saat ini dibawah kepemimpinan Ibu Nurhidayah dalam rangka pengembangan dunia pariwisata dan pengembangan potensi wisata baru," jelas Tamel.

Karena, sejak tahun 2010 lalu lokasi tersebut sudah ditetapkan sebagai hutan lindung desa, menurut Tamel warga Desa Pasir Panjang dan desa lain disekitarnya sudah mengetahui bahwa berburu dan merusak hutan adalah hal yang terlarang dilokasi tersebut.

"Kita juga secara swadaya melakukan patroli guna mencegah adanya orang yang tidak bertanggung jawab melakukam perburuan di hutan desa ini," jelas Tamel.

Pasalnya, menurut Tamel, di hutan desa ini terdapat satwa yang saat ini bisa dikatakan sudah langka.

"Karena lokasi hutan yang masih terjaga, maka di hutan desa ini kita bisa menemukan satwa seperti kijang, rusa, pelanduk (kancil), kera ekor panjang warna merah, beruk, kelasi dan bahkan tarsius," jelas Tamel. (WAHYU KRIDA/B-2)