BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Dengan lancar dan bersemangat, Suryansyah, 54, bercerita berbagai hal tentang tanaman mangrove atau bakau.
Bahkan, laki-laki paruh baya asal Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) itu juga lancar menyebutkan nama latin dari berbagai jenis tanaman mangrove. Khususnya yang tumbuh dan hidup di sepanjang garis pantai di Kecamatan Kumai.
Walau dari segi pendidikan Suryansyah hanya lulusan SMAN 1 Pangkalan Bun tahun 1983, pengetahuannya tentang mangrove tidak bisa dianggap enteng.
Sudah tidak terbilang banyaknya akademisi dari berbagai universitas baik dalam maupun luar negeri yang berdiskusi dan berbagi ilmu dengan lelaki yang berprofesi sebagai nelayan dan juru parkir di taman wisata Desa Kubu itu.
Bahkan, ahli kelautan dan asisten profesor Eckerd College-Collegium of Narural Science Jeanine M Lessmann, pernah menjadi partner diskusinya saat peneliti asal Amerika Serikat tersebut mengunjungi Desa Kubu untuk meneliti mangrove.
--page
"Ketertarikan saya dengan tanaman mangrove dimulai sekitar 25 tahun lalu. Awalnya sederhana saja. Melihat tanaman mangrove yang sedikit -mulai sedikit mulai menghilang dari bibir pantai, hati saya rasanya tidak nyaman," tutur Suryansyah saat ditemui di Desa Kubu, Sabtu (13/10/2018).
Pasalnya, lanjut dia, pohon mangrove atau bakau yang tumbuh di pantai ternyata membawa manfaat banyak bagi kehidupan.
"Selain menahan abrasi pantai dan mengurangi dampak hantaman gelombang dahsyat bila terjadi tsunami, mangrove juga memberikan kehidupan bagi biota laut, seperti ikan, kepiting, dan anak udang atau benur. Perlu diketahui dari 1 hektare tanaman mangrove mampu memberi makanan, berupa daun-daun yang jatuh di air pada sekitar 1,2 ton biota laut," lanjutnya.
Hal itulah yang membuat dirinya berniat menyelamatkan tanaman mangrove dari kerusakan.
"Pemikirannya sederhana. Saya nelayan dan mencari nafkah diperairan. Bila ikan semakin berkurang bagaimana kelanjutan profesi ini?" ujarnya.
--page
Karena kekhawatiran itulah, ia berinisiatif menanaman mangrove sendiri.
"Bibitnya yaitu biji mangrove saya cari di hutan mangrove yang masih bagus. Biji tersebut kemudian saya semai dan tanam di bagian pantai yang hutan mangrovenya mengalami kerusakan," cerita Suryansyah.
Selain itu, ia juga berinisiatif mempelajari mangrove dari berbagai buku yang mengulas tentang tumbuhan itu.
"Dari hasil mempelajari secara otodidak tersebut saya mengetahui jenis mangrove berikut nama latinnya. Perlu diketahui di jalur pantai Kecamatan Kumai terdapat sekitar 7693 hektare hutan mangrove yang merupakan terbesar di Kalimantan. Ditumbuhi lebih dari 20 jenis mangrove. Artinya jenis mangrove yang ada di Kabupaten Kobar lebih banyak bila dibandingkan dengan daerah lain," jelas Suryansyah.
Saat ditanya apakah ada pihak yang mensponsorinya? Suryansyah menggeleng.
--page
"Sebagian besar penanaman mangrove saya biayaai sendiri. Bahkan untuk mencari bibit mangrove dan proses penanaman saya meminjam kelotok dari beberapa rekan yang bersedia meminjamkan," tuturnya.
Agar aktivitasnya menanami mangrove lebih mudah dan lancar, Suriansyah mengidam-idamkan memiliki kelotok sendiri.
"Cukup kelotok panjang 6 meter dan mesin 25PK saya rasa sudah cukup untuk membantu saya mencari bibit dan menanamnya di lokasi pantai yang kondisi mangrovenya rusak," sebut dia. (KRIDA/B-3)








