JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Mahkota Group Tbk (MGRO) mulai merealisasikan pembangunan pabrik refinery penghasil minyak goreng dan pabrik kernel crushing plant di Dumai dan ditargetkan rampung dan beroperasi Juni 2019.

Refinery tersebut memiliki kapasitas produksi 1.500 ton per hari, sedangkan pabrik kernel crushing plant memiliki kapasitas 400 ton per hari.

Perseroan menggelontorkan dana Rp330 miliar untuk mendirikan pabrik anyar. Rincian sumber dananya, Rp90 miliar dari hasil IPO dan sisanya dari kas internal.

Nantinya, produk minyak goreng akan didistribusikan ke seluruh Indonesia melalui mitra perusahaan ritel. 

Tidak hanya memproduksi minyak goreng, MGRO juga berencana memproduksi berbagai produk turunan, seperti biodiesel. Diversifikasi produk ini sebagai respons atas kebijakan B20 yang dicanangkan pemerintah.

--page

Kemungkinan pada akhir 2019 atau awal 2020, MGRO akan membangun pabrik biodiesel. Sumber dana disiapkan dari internal dan pinjaman bank.

Dengan adanya pabrik minyak goreng dan kernel, MGRO berharap pertumbuhan kinerja ke depan bisa berkesinambungan dan ditargetkan pendapatan tahun depan meningkat 150% dibandingkan target pendapatan tahun ini. 

Sementara, laba ditargetkan bisa mencapai Rp120 miliar pada 2019. Tahun ini, MGRO berharap pendapatan naik sekitar 10%-15% menjadi Rp2 triliun. 

Sedangkan laba bersih diharapkan tumbuh 100% year on year (yoy) menjadi Rp50 miliar. Hingga semester I-2018, pendapatan perusahaan naik 11% yoy menjadi Rp836,59 miliar. Namun, MGRO masih menorehkan rugi bersih Rp 17,82 miliar. 

Meski begitu, nilai kerugian mengecil dibandingkan semester pertama 2017 sebesar Rp24,93 miliar.

--page

Per Juni 2018, aset perusahaan bertambah 1,7% dibandingkan Desember 2017 menjadi Rp981,96 miliar.

Sedangkan analis Panin Sekuritas, William Hartanto memperkirakan pembangunan pabrik refinery penghasil minyak goreng tentu akan membantu menopang kinerja perusahaan di masa mendatang.

"Kinerja MGRO masih terhambat lantaran tren pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) yang melemah. Maka, produk pengolahan kelapa sawit yang sudah berjalan bisa sebagai antisipasi, karena harga bahan baku sedang rendah dan kelapa sawit perlu diolah supaya harga jual lebih tinggi," kata William dalam risetnya.

William merekomendasikan beli saham MGRO dengan target harga akhir tahun di kisaran Rp470 hingga Rp500. (NEDELYA RAMADHANI/m)