BORNEONEWS, Sampit - Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotawaringin Timur, Sarjono mengungkapkan warga pedalaman Kotim ternyata banyak yang mengidap penyakit menular di antaranya penyakit TBC.
Ironisnya, keberadaan masyarakat itu kadang tidak masuk dalam daftar inventarisasi oleh pemerintah daerah. Karena mereka tidak mau berobat bahkan melaporkan ke puskesmas terdekat
"Maka dari itu Pemkab Kotim diharapkan bisa melibatkan puskesmas dan puskesmas pembantu di desa wilayah pedalaman untuk mendata warga yang terkena TBC itu," kata Sarjono, Selasa (23/10/2018).
Menurut Sarjono, pemerintah daerah harus menggandeng puskesmas untuk mendata warga itu supaya mereka yang terkena penyakit itu segera ditangani secara medis. Apalagi program pemerintah menggratiskan pengobatan kepada mereka pengidap TBC.
Pendataan hingga pengobatan ini, kata dia, untuk mencapai kesuksesan program eliminasi TBC bisa tuntas di tahun 2030 nantinya.
--page
Dari itu sinergitas bersama, tidak hanya Dinkes sendiri yang bekerja, kepala desa dan lurah juga didorong untuk aktif melaporkannya jika ada warganya yang terkena TBC.
Sarjono mengakui penyakit TBC selalu jadi penyakit turun temurun di masyarakat. Parahnya lagi ketika dimasyarakat ada seseorang yang mengidap penyakit TBC cenderung dikucilkan dari pergaulan sosial.
Salah satu alasanya, lantaran penyakit tersebut sangat mudah menular. Dengan demikian target 2030 bebas TBC ini bisa sukses terlaksana di Kotim. (NACO/B-2)








